Perjalanan Dimulai di Pagi Hari

 Tak berselang lama sejak azan subuh berkumandang, Togu Simorangkir sudah bersiap di pelataran Siantar Hotel Parapat, tepi Danau Toba. 19 November 2018 merupakan hari pertama dimulainya aksi heroik jalan kaki sejauh 305,65 Km olehnya. Doa pagi yang mengiringi perjalanan awal ini terasa begitu khidmat. Tepat 25 tahun yang lalu ayahanda tercinta Togu meninggal, dan hari ini ia harus berjuang demi anak-anak di Danau Toba. Sebuah semangat berbagi dan pantanng menyerah yang berhasil ditularkan oleh sang Ayah kepada Togu.

Persiapan Jalan Kaki 305,65 Km

          Kicau burung dan hewan lain di sekitar danau toba, tampak menyambut sekaligus menjadi penyemangat pagi bagi seorang Togu. Semburat cahaya emas perlahan tampak dari balik bukit sekitar toba. Air danau masih tenang seperti biasa. Kera-kera yang biasanya hobi melihat lalu lalang manusia pun, belum tampak. Saat itu, langkah Togu dan Biston sudah berayun menuju kilometer pertamanya.

          Sekedar menjadi pengingat, aksi jalan kaki 305.65 Km mengelilingi lingkar luar Danau Toba ini dilakukan untuk menggalang dana bagi operasional 8 sopo (rumah) belajar, 2 kapal belajar, dan 3 kreta (motor) baca. Kesemuanya dikelola oleh Yayasan Alusi Tao Toba yang digagas oleh Togu Simorangkir. Yayasan ini didirikan untuk menjaga mimpi anak-anak di sekitar Danau Toba, juga meningkatkan pendidikan di wilayah serupa.

          Togu Simorangkir sudah tercatat seringkali melakukan hal-hal ekstrim untuk menggalang dana. Berenang sejauh 9 dan 18 Km di Danau Toba sudah pernah ia lakukan. Jalan kaki sejauh 50 km (Siantar-Parapat) dan bersepeda sejauh 70 Km untuk menggalang dana bagi rumah baca di Lombok Utara yang hancur terkena gempa pun, berhasil ia taklukan.

Perjalanan Berat yang Tetap Dinikmati

Togu tidaklah sendirian, dalam aksi baling (gila) ini, ia ditemani tim yang sekaligus menjadi pengawal. Total ada 12 orang yang menjadi pengawal proses acara ini. Mereka dibagi menjadi 4, tim jalan kaki; tim dokumentasi dan liputan; tim acara berbagi buku; dan lainnya adalah pengawal P3K Logistik.

Tim Jalan Kaki 305,65 Km Hari Pertama

Tim jalan kaki sendiri terdiri dari Togu dan Biston (Kapten Kapal Belajar). Namun, di hari pertama, tim jalan kaki ditemani oleh Opung (kakek) Nestor Tambun (60an), seorang mantan jurnalis senior, dosen juranlistik, sekaligus sastrawan penggarap skenario sinema televisi terkenal kala itu, Si Doel Anak Sekolahan. Dan kami, tim literasinusantara.com, Kompas.com, dan Alusi Tao Toba terbagi ke dalam tiap tim yang sudah ditentukan.

 

Togu dan Biston Membeli Jangek (Kerupuk)

Bukan Togu namanya jika tidak tergiur dengan sejumlah makanan ringan yang dijual dipinggir jalan. Benar saja, pada 6 kilometer awal, ia dan Biston pun berjumpa dengan penjual jangek, makanan ringan bernama kerupuk jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sembari tertawa gembira, ia membagi sekitar 40 bungkus jangek kepada tim pengawalnya. Memang, tim jalan kaki, P3K Logistik, dan dokumentasi serta liputan sudah bergerak sejak usai subuh. Sarapan di hotel kala itu, sudah tentu belum disiapkan.

 

 

          10 Kilometer awal adalah jalur tanjakan. Bukan perkara mudah bagi Togu, Biston dan Nestor untuk melewatinya. Beruntung, Togu sudah berlatih selama beberapa minggu agar terbiasa dengan jalur serupa. Dalam beberapa menit setelahnya, tim literasi nusantara dan kompas.com mulai bergabung untuk berjalan kaki. Kemudian kami melewati area perkampungan dan pelatihan para tentara di jalur Pematang Purba – Parapat.

Tawa Canda Mewarnai Proses Perjalanan Kami

           Tawa dan canda mewarnai perjalanan kami. Apalagi Biston, yang memang memiliki bakat melawak bagus. Sesekali kami memerhatikan kondisi alam sekitar, berhenti untuk menikmatinya, dan mengucap syukur.  Tak terasa kami sudah tiba di kilometer ke-16, dimana kedepannya, Danau Toba akan membentang di sisi kiri jalur kami selama beberapa jam kedepan. Setelah mengambil beberapa gambar untuk keperluan dokumentasi, kami menlanjutkan perjalanan. Pemberhentian selanjutnya adalah salah satu SD yang berada di daerah Huta Mula, sekitar 6 hingga 7 Km lagi.

Berbagi Buku dan Inspirasi di Salah Satu Sekolah Dasar

   Kedatangan kami disambut hangat oleh Kepala Sekolah SD Negeri 091437 Huta Mula Kecamatan Pamatang Sidamanik, Ibu Rismaida Damanik. Sekolah ini berdiri sejak tahun 1965 dan kini memiliki 111 murid serta 7 orang guru. Ibu Rismaida menceritakan bahwa beliau sudah menjadi guru di sekolah tersebut sejak 1985. Bahkan ia sempat mengajar 6 kelas dan hanya dibantu oleh 1 orang guru.

Bermain Bersama Murid SDN 91437 Huta Mula, Kecamatan Pamatang Sidamanik
Tim Jalan Kaki 305,65 Km bersama Kepala Sekolah dan Guru SDN 91437 Huta Mula, Kecamatan Pamatang Sidamanik

Tim kami dibagi menjadi dua. sebagian mendongeng bersama opung Nestor (kelas 1-3), sisanya bergabung dalam permainan edukatif. Saat ditanya, cita-cita para murid disini masih terbatas pada profesi-profesi yang sudah mereka kenal saja. Tim kami pun mencoba untuk berbagi semangat dan pengetahuan mengenai banyaknya cita-cita lain diluar sana yang bisa mereka gapai. Tidak lupa pula, untuk memupuk semangat persatuan dan kesatuan, kami bersama-sama menyanyikan lagu Dari Sabang Sampai Merauke dengan diiringi gerak interaktif. Acara di sekolah ini pun ditutup dengan pembagian buku tulis untuk seluruh siswa, serta pemberian paket buku bacaan untuk sekolah.

 

                Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB saat kami rehat untuk makan siang di Batu Lihi, sebuah bukit pandang untuk melihat indahnya Danau Toba. Kudapan yang sederhana pun terasa begitu nikmat kala disantap bersama-sama. Hidangan bertambah lengkap saat melihat cantiknya bukit hijau yang berbaris rapi. Terlihat awan hujan sudah turun menyelimuti bukit di seberang danau. Di beberapa titik sudah tampak guyuran air yang lebat. Kami pun kembali bergegas.

Finish Saat Hujan Mengguyur

   Berselang 30 menit setelah kami meninggalkan Batu Lihi, hujan pun mulai mengguyur. Togu dan Biston pun segera menggunakan jas hujan dan mengganti alas kaki menjadi sandal jepit. Masih tersisa 13 Km lagi untuk mencapai target harian. Hujan di sekitaran Danau Toba tentulah berbeda, karena kabut tebal akan langsung menyelimuti lima-sepuluh menit kemudian. Namun tampaknya, kondisi seperti ini tidaklah cukup untuk memadamkan semangat mereka.

Ekspresi Togu dan Biston saat berhasil menyelesaikan target 40 Km Hari Pertama

Pada akhirnya, saat gerimis masih mengguyur dengan cukup deras, Togu dan Biston sampai di perempatan Sipintu Angin. Berdasarkan alat pengukur jarak, titik 40 Km pertama jatuh di sini. Mereka berhenti sejenak agar tim P3K membantu untuk mengoleskan minyak Karo di kaki masing-masing. Namun, untuk mencapai titik bermalam kami, mereka masih harus menempuh jalur  tanjakan sejauh 6 Km. Tepat pukul 17.25, mereka sampai di kawasan Simarjarunjung. Disinilah kami akan bermalam.

 

 

 

          Setelah melepas lelah sekaligus menghangatkan badan di tempat makan, kami bergegas mendirikan tenda. Sebagian tim memasak makan malam. Kabut tebal mulai turun saat kami masih menyiapkan ruang untuk menginap. Sekitar pukul 20.00 WIB, 4 tenda dan tempat memasak sudah siap untuk ditempati. Meskipun hujan masih setia menemani malam kami, namun kebersamaan kembali menjadi penghangat suasana disini.

           Demikianlah kisah #JelajahLiterasi dalam Jalan Kaki sejauh 46,4 Km di hari pertama, ada banyak semangat dan inspirasi yang dapat dipetik dalam perjalanan ini. Di hari pertama ini kami berhasil mengumpulkan donasi sejumlah Rp.37.200.000. Donasi akan terus kami buka hingga akhir tahun 2018 melalui Donasi Jalan Kaki 305,65 Km untuk #TaoTobaMembaca. Bagi sobat literasi yang ingin menyaksikan perjalanan kami secara langsung, silakan periksa instagram @literasinusantara dan @alusitaotoba.

Leave your vote

1 point
Upvote Downvote

Total votes: 3

Upvotes: 2

Upvotes percentage: 66.666667%

Downvotes: 1

Downvotes percentage: 33.333333%

Total
52
Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…