Memulai Pagi dengan Cedera Kaki

Hujan dan Kabut Mengiringi Perjalanan Hari Kedua

Sepanjang sore, cuaca di Kabupaten Karo diguyur hujan cukup lebat. Beruntung, malamnya kami diizinkan oleh kepala desa Situnggaling untuk menggunakan Jambur (balai desa) sebagai tempat berkemah. Seperti hari sebelumnya, hawa dingin yang cukup menyengat kembali menyambut pagi kami. Kaki Togu masih diletakkan di atas koper milik tim. Salah satu cara meringankan beban kaki setelah berjalan jauh.

Togu Terlihat Memakai Sandal Jepit Saat Berjalan di Hari Kedua

Sejenak mengingat perjalanan kemarin, di kilometer ke-87 Togu dan Biston sempat mengalami cedera. Togu mengalami cedera di telapak kaki. Hal ini bermula saat ia memutuskan untuk mengganti sepatunya menjadi sandal jepit akibat cuaca yang sangat terik. Alhasil ia berjalan sejauh 27 Km menggunakan alas kaki tersebut. Biston tetap memakai sepatu hingga finish, sehingga ia hanya mengalami lecet di jari kakinya.

 

 

Partisipasi dan Dukungan Warga, Kisah Togu Jalan Kaki 305,65 Km ; Hari Kedua

Tim kami mulai berkemas saat kabut kembali turun. Rencananya, kami akan menyeduh kopi dan teh meski hanya secangkir sebelum melanjutkan perjalanan. Kami juga ingin menyantap sarapan pagi agar perut yang kosong sedikit terisi. Namun, nasib baik belum berpihak pada kami karena regulator tabung gas yang dibawa, rusak.

Sesuai rutinitas, kami pun berdoa dan memberikan semangat untuk tim Jalan Kaki 305,65 Km. Sejak pagi langkah Togu sudah terlihat berat. Pria berbadan tinggi besar ini  cukup kesulitan ketika berjalan. Namun, secara kasat mata tidak terlihat ada masalah serius di kakinya. Kontingen kami dilepas oleh rekan-rekan dari Merek yang sudah dengan ringan tangan membantu kami mencarikan tempat menginap. Bahkan, abang Filemon Sitepu memberikan satu ember jeruk manis asli Tanah Karo.

Tim Jalan Kaki 305,65 Km Berfoto Bersama dengan Bang Filemon dan Iman di Depan Jambur (Balai) Desa Situnggaling, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. Mereka Membantu Mencarikan Tempat Bermalam untuk Kami dan Memberikan Dukungan Tambahan Logistik

 

Berbagi Semangat dan Motivasi di SMA/SMK YAPIM Merek

Suasana Saat Tim Jalan Kaki 305,65 Km Saat Tiba di SMA/SMK Yapim untuk Berbagi Motivasi

 

Jam menunjukkan pukul 07.30 saat kami tiba di SMA/SMK YAPIM (Yayasan Perguruan Indonesia Membangun) Merek. Tim kami akan berbagi motivasi dan buku di sekolah ini. Ketika kami tiba, anak-anak tengah bersiap masuk kelas. Pihak sekolah meminta agar kelas XII tetap tinggal untuk menyambut kami. Kak Eka Dalanta dari Alusi Tao Toba memandu acara sekaligus memperken

 

 

Togu Memberikan Motivasi Kepada Murid SMA / SMK Yapim, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo

Togu langsung memperkenalkan diri dan menjelaskan mengenai aksinya ini. Ia menceritakan bagaimana sejarah Yayasan Alusi Tao Toba dan latarbelakangnya melakukan aksi heroik ini. Semangat yang ia tularkan adalah mengenai mimpi yang harus dihidupi. Togu menceritakan masa-masa dimana ia berjuang untuk sekolah ke luar negeri, meskipun daerah asalnya dari sebuah kota kecil di Sumatera.

Murid kelas XII tampak antusias dan bersemangat mendengarkan motivasi dari Togu. Mereka sudah berada dalam fase lebih serius untuk mencapai cita-cita mereka. Usai memberikan motivas, Togu berpamitan untuk melanjutkan 40 Km target hariannya pada jam 08.45. Acara kembali dilanjutkan oleh tim lainnya.

Foto Bersama Kepala Sekolah dan Murid SMA/SMK Yamin, Kecamatan Merek

Menyusuri Jalur Utama Merek – Sidikalang

Rute hari ini melewati kota dan hutan sepanjang 27 Km dan merupakan jalur utama dimana akan banyak truk besar yang lewat. Itu artinya kami harus memastikan bekal kami cukup hingga sampai di pemukiman terdekat. Doa terpanjatkan agar semangat dan kesehatan Bang Togu dan Biston tetap terjaga meski kaki mereka cedera.

 

Beberapa kilometer sebelum masuk ke dalam hutan, ada pesan masuk ke dalam grup WhatsApp yang sengaja kami buat selama perjalanan ini. Ternyata Bang Togu menginformasikan bahwa cedera telapak kakinya kambuh di kilometer ke-6. Ia membutuhkan air hangat untuk merendam kakinya. Kami bergegas menuju titik dimana ia terhenti.

Tim pengawal menyiapkan air panas yang didapatkan dari warung makan terdekat. Kali ini Togu menyesali strateginya yang salah di hari sebelumnya. Sebagian tim yang belum sarapan, singgah di warung makan seberang. Togu masih berfokus pada kesembuhan kakinya. Di saat yang sama, ia berteriak memanggil penjual jangek (kerupuk) yang lewat. Kini, kudapan favoritnya itu dapat mengalahkan rasa sakitnya.

Togu Kembali Berjalan Menyusuri Jalur Utama Merek – Sidikalang

Selang 30 menit kemudian, Togu kembali berjalan bersama Biston. Langkah demi langkah pelan mereka ayunkan untuk mencapai target harian. Jalan didepan sudah tampak menggelap tertutup rimbunnya pepohonan. Semenit kemudian, kami memasuki jalur hutan Merek – Sidikalang.

Layaknya hutan pada umumnya, pepohonan hijau menghiasi tepian jalan. Nyanyian burung bersautan dengan deru truk besar yang melintas. Aroma kayu menjadi penyegar napas, meski cukup sering tangan kami letakkan menutupi hidung karena asap kendaraan.

Memejamkan Mata Sejenak

Sepanjang perjalanan, kami saling menyemangati satu sama lain. Beberapa kendaraan tampak mengurangi kecepatan karena melihat kami berjalan menggunakan seragam. Jalan tanjakan masih terbentang panjang kedepan. Meski demikian udara yang sejuk tetap membuat perjalanan kami terasa nyaman. Togu meminta tim lain untuk berjalan didepannya karena ia merasa kecepatan berjalannya sudah berkurang. Kami pun mengiyakan.

Memasuki kilometer 12, kami berhenti sejenak menunggu kedatangan Togu. Rasa cemas menghinggapi kami karena Togu tidak kunjung sampai di titik ini. Kelegaan kami kembali saat pria berikat ulos di kepalanya itu mulai terlihat mendekat. Meskipun ia memakai kacamata hitam, gerak tubuhnya terbaca bahwa ia telah merasa lelah.

“Ambilkan aku alas untuk merebahkan badanku sejenak, aku ngantuk sekali.” Pinta Togu kepada tim yang ada disana.

Karena Berjalan Sembari Menahan Sakit, Togu Rehat Sejenak untuk Melepaskan Lelah

Beberapa menit kemudian, Togu tertidur diatas spanduk bergambar dirinya. Dengan tetap mengenakan kacamata, ia merebahkan badannya dengan posisi kaki diganjal galon berisi air minum kami. Sebagian tim kami memayungi badannya karena sinar mantari yang mucul dari balik dedaunan terasa membakar kulit. Tim jalan kaki lain seperti Bang Biston, Ima, dan Azas sempat diperintahkan untuk tetap melanjutkan perjalanan hingga beberapa kilometer kedepan.

Tumbang di Kilometer ke-101

Kaki Kanan Togu yang Terlihat Cedera dan Membengkak

Berjarak 1 kilomter dari titik Togu beristirahat, Biston, Ima dan Azas bersama dengan Andar serta Aji, menunggu Togu. 30 menit kemudian, Togu terlihat menyusul kami dengan pelan. Kami berjalan beriringan sejauh 1 km lagi sampai di bangunan bekas warung yang memiliki parkir luas. Tim memutuskan untuk beristirahat makan siang disana. Togu meminta direbuskan air panas dan dibubuhi garam untuk merendam kakinya kembali.  Ia juga meminta tim untuk memijat kaki sebelah kanannya.

 

Togu yang Tiba-Tiba Menggigil dan Demam

Kami menyiapkan alas sekaligus bahan makanan. Sebagian tim mencari sungai untuk mencuci pakaian dan peralatan makan. Beberapa membantu memberikan perawatan kepada Togu. Kami cukup panik saat badan Togu tiba-tiba menggigil. Ia meminta diambilkan selimut tebal. Togu mulai demam. Pertolongan pertama pada Bang Togu, langsung kami lakukan.

 

 

Togu Mendapatkan Perawatan dari Tim Jalan Kaki 305,65 Km

Ditengah sakitnya itu, Togu tetap bersikukuh ingin melanjutkan perjalanan setelah ia membaik. Sontak kami semua melarang niatnya itu. Kami mengusulkan agar hari ini perjalanan dicukupkan di kilometer 14,8 agar esok ia bisa melanjutkan misinya kembali. Selama kurang lebih 2 jam, kami istirahat dan makan siang bersama.

Menjaga Mimpi Anak-Anak Danau Toba, Kisah Togu Jalan Kaki 305.65 Kilometer ; Hari Pertama

Menghabiskan Malam Bersama Rekan-Rekan Yayasan Petrasa

Saat makan siang, kami berkoordinasi dengan rekan dari Yayasan Petrasa untuk penginapan malam nanti. Yayasan Petrasa ini bergerak dibidang pertanian. Waktu menunjukkan pukul 15.30 saat kami berkemas untuk menuju Kecamatan Sumbul. Rencananya, kami akan membawa Bang Togu ke Puskesmas Sumbul untuk mendapatkan pengobatan lanjutan. Saat kami tiba, ternyata tergantung papan bertuliskan “Tutup” di pintu Puskesmas.

Tim Jalan Kaki 305,65 Beristirahat Makan Siang di Tengah Hutan Jalur Merek – Sidikalang

Sesaat kemudian, Amang Bertin Sijabat menghampiri sekaligus membimbing kami menuju rumahnya. Begitu sampai, Togu dan kami beristirahat sembari menikmati seduhan kopi dan teh dari Bang Andi, Videografer kami. Malamnya, sekitar 7 rekan Petrasa berkunjung ke rumah Amang Bertin Sijabat untuk berdiskusi dan berbincang hangat. Kami menyantap makan malam bersama-sama.

 

Kebersamaan Bersama Rekan-Rekan dari Yayasan Petrasa di Rumah Amang Bertin Sijabat

 

Di hari ketiga, langkah Togu Simorangkir terhenti di 14,8 Km, cukup jauh dari target harian yang ia tentukan. Meski demikian, total jarak yang telah berhasil ia taklukan hingga kini sejauh 102,2 Km. Terus dukung dan doakan Togu Simorangkir dan Biston Manihuruk agar hari selanjutnya mereka kembali menaklukan jarak. Simak kisahnya di www.literasinusantara.com.

Literasinusantara.com akan terus berkomitmen untuk mendukung kegiatan inspiratif dari seluruh komunitas dan taman baca di Indonesia, guna menyebarkan virus-virus literasi di wilayah mereka.

Liputan Jalan Kaki 305,65 Km ini merupakan rangkaian #JelajahLiterasi. Program ini merupakan kolaborasi antara www.literasinusantara.com dan kompas.com. Kami mengunjungi sekaligus ingin menularkan semangat juang dari komunitas dan taman baca diseluruh pelosok negeri.

Saksikan Video Perjalanan Kami Disini

 

Leave your vote

2 points
Upvote Downvote

Total votes: 2

Upvotes: 2

Upvotes percentage: 100.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…