Malam kemarin kami singgah dirumah Gohan yang berada di Kota Dolok Sanggul, kota dengan udara yang dingin. disana kami disuguhkan minuman hangat dan makanan lezat. Sudah lima hari Togu dan Biston melakukan aksi jalan kaki 305,65 kilometer. Total jarak yang sudah kami tempuh selama lima hari sejauh 186,7 kilometer.

 

Tim memberikan semangat untuk Togu dan Biston sebelum melakukan aksi jalan kaki keliling Danau Toba

Sabtu 24 November 2018 adalah hari keenam Togu dan tim akan melanjutkan perjalanan dari Kota Dolok Sanggul ke Kota Muara. Togu dan Biston melanjutkan perjalanan terlebih dahulu, sedangkan lainnya masih berada di rumah Abang Gohan untuk menyiapkan sarapan.

 

 

 

Menikmati Pemandangan Alam di Lembah Bakkara

Aksi jalan kaki Togu dan Biston dimulai pukul 06.51 WIB. Rute hari ini lebih banyak melewati jalanan menurun. artinya Togu dan Biston harus menahan lebih banyak beban berat badan mereka. Namun perjalanan kali ini memiliki pemandangan alam yang apik. Tentu rasa lelah yang ada dapat terbayarkan. Di samping kanan kiri jalan, berjejer indah pohon pinus di atas bukit yang memagari sebuah lembah. Gema suara hewan saling bersautan indah dengan gemericik air. Sebuah kolaborasi sempurna yang memunculkan kedamaian.

Pemandangan alam Lembah Bakkara

 

Jam 09.30 di kilometer ke 11, Togu dan tim berhenti sejenak di Lembah Bakkara untuk beristirahat dan menyantap sarapan yang sudah disiapkan. Lembah Bakkara adalah salah satu spot eksotis dikawasan Danau Toba. Wilayah ini dikelilingi oleh dataran tinggi yang menghimpit sebuah lembah. Di sebelah kanan, kami dapat melihat tebing yang menjulang. Tebing ini ditumbuhi pohon – pohon pinus yang pucuknya seolah menyentuh langit. Di seberang tebing adalah jurang, namun jika kita melihat ke bawah sana bertengger sebuah desa indah. Suhu di lembah bakkara relatif dingin dan sejuk sepanjang harinya. Lembah Bakkara ini adalah tempat asal muasal Raja Sisingamangaraja, pahlawan nasional dari tanah batak. Disini juga merupakan pusat pemerintahan Raja ke I – XI.

Literasi Budaya Di Tanah Batak

Gerbang menuju Istana Raja Sisingamangaraja

Setelah sarapan dan mengabadikan momen di atas Lembah Bakkara, Togu dan Biston kembali melanjutkan aksinya. Tim kami menuju Dusun Lumban Raja, Desa Simamora, Kecamatan Bakti Raja. Di desa ini dapat kita jumpai Istana Raja Sisingamangaraja. Istana ini merupakan tempat kelahiran dan kampung halaman sang Raja. Ketika kami memasuki pintu gerbang terlihat bangunan dengan atap dan corak khas tradisional Batak Toba. Di area ini kami harus melepaskan alas kaki guna menjaga kesucian istana.

 

Makam Raja Sisingamangaraja ke XI

Di dalam istana, pandangan kami langsung tertuju ke sebuah bangunan batu berwarna merah, hitam dan putih. Lantai bangunan itu ditumbuhi dengan rumput hijau. Tepat ditengah batu terdapat gambar bendera perang Raja Sisingamangaraja XI. Bendera perang ini berwarna merah dan bergambar dua buah pedang kembar yang disebut Piso Gaja Dompak, pusaka raja Sisingamangaraja I – XI. Di sekelilingnya terdapat beberapa makam yang salah satunya milik Raja Sisingamangaraja X. Makam lainnya memiliki betuk lebih sederhana.

 

 

Rumah Adat Tradisional Batak

Terdapat 4 rumah di area ini, diantaranya adalah Rumah Bolon yang biasanya dijadikan tempat untuk menerima tamu. Sopo Godang tempat kegiatan seni budaya. Sopo Bolon untuk lumbung padi perbekalan dan satu lagi Rumah Parsaktian yaitu tempat tinggal raja dan keluarga. Keempat rumah ini memiliki corak yang sama yaitu warna merah, putih dan hitam. Warna – warna tersebut adalah simbol dari 3 dunia yaitu dunia atas, tengah dan bawah. Terdapat juga tulisan aksara batak dan gambar bulan serta bintang. Bulan melambangkan kesejukan, sedangkan bintang menandai 8 penjuru mata angin diartikan “Sisingamangaraja adalah Raja yang mendunia”.

Istana ini merupakan tempat bersejarah bagi Togu. Pria bertubuh besar ini merupakan salah satu keturunan Raja Sisingamangaraja yang ke XII, sehingga rasa haru dan bangga muncul tatkala ia menapakkan kaki disana.

Wisata Alam Danau Toba

 

Budi daya ikan ihan Desa Marbun Dolok

Setelah mengunjungi istana Raja Sisingamangaraja, Togu dan tim menunju tempat budi daya Ikan Ihan di Desa Marbun Dolok. Ihan adalah ikan asli Danau Toba. Masyarakat di Jawa biasanya menyebut sebagai Ikan Dewa. Aturannya, jika ingin membeli ikan ini di pasar, pembeli tidak boleh menawar harga, karena khasiatnya akan menghilang. Saat ini ekosistem Ihan sudah sangat langka. Hal ini dikarenakan banyak manusia yang menangkap ini dengan cara diracun dan disetrum.

Setelah berkunjung ke budi daya Ikan Ihan, Togu dan tim melanjutkan perjalanan menuju Air Terjun Aek Sipangolu. Selama perjalanan menuju kesana kami disuguhi oleh pemandangan alam yang tidak kalah menarik dengan Lembah Bakarra. Areal persawahan serta tanaman bawang merah yang ditanam oleh warga setempat menjadi pemandangan yang meneduhkan mata.

 

Air Terjun Aek Sipangolu

 

Aek Sipangolu adalah bagian dari perjalanan sejarah Raja Sisingamangaraja XII. Aek Sipangolu atau air kehidupan diyakini dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Sejarah terbentuknya Air Terjun Aek Sipangolu ini bermula saat Raja Sisingamangaraja XII melakukan perjalanan panjang dari Manduamas – Barus bersama gajahnya.

 

 

 

 

Ditengah perjalanan gajah sang raja nampak kehausan dan lelah karena telah melakukan perjalanan panjang yang cukup lama. Raja Sisingamaraja berdoa kepada Mulia Jadi Na Balon (kepercayaan dalam suku batak). Kemudian sang raja memukulkan tongkatnya ke tanah dan muncul lah air dari tanah. Gajah itu akhirnya meminum air tersebut sampai puas, lalu melanjutkan perjalanan bersama sang raja. Namun, air yang yang muncul tersebut lama – kelamaan semakin banyak dan mengalir menuju Danau Toba. Kisah inilah yang melatarbelakangi Togu untuk berkunjung kesini.

Sesampainya disana, tanpa berfikir panjang Togu langsung berendam dan mandi. Suara gemericik dan derasnya hantaman air ke batu membuat pikiran menjadi tenang. Dinginnya Air Terjun Aek Sipangolu membuat badan Togu menjadi segar kembali setelah seharian berjalan kaki.

Melepas Rindu dengan Keluarga

Setelah mandi di Aek Sipangolu, Togu bergegas kembali. Di daerah Bakkara menuju Muara tepatnya di kilometer 35,4, Togu bertemu dengan keluarganya. Sebuah momen yang sangat ditunggu. Hari ini Togu melepas rindu kepada anak dan isrinya. Setelah enam hari tidak berjumpa, kali ini Togu dapat memeluk ketiga anaknya yang saat itu baru saja turun dari mobil.

 

Togu melakukan aksi jalan kaki ditemani oleh istri dan ketiga anaknya

Kedua putra Togu Nous Hamonangan Simorangkir atau yang biasa di panggil dengan Nous dan Renhard Eleazer Partonggolan Simorangkir atau yang biasanya dipanggil Bumi ikut menemani Togu melanjutkan aksi jalan kaki mengelilingin Danau Toba. Meskipun hujan turun namun tidak mematahkan semangat kedua anak ini untuk jalan kaki bersama bapaknya. Tidak lama setelah itu, Santi istri Togu dan anak ketiganya Langit Dibetania Simorangkir atau yang biasanya di panggil Langit juga ikut menemai pria berusia 41 tahun ini. Diperjalanan mereka sekeluarga saling bercengkrama, bercanda dan mengabadikan momen kebersamaannya. Di temani jalan kaki oleh keluarganya membuat semangat Togu semakin membara

Hari ini Togu dapat menyelesaikan aksinya di jam 18.25 dengan jarak tempuh 42.6 kilometer. Jumlah jarak yang dilalui Togu selama enam hari ialah sejauh 229,3 kilometer. Pada malam yang special ini Togu dan tim juga mendapat tempat untuk bermalam di Hotel GNB Muara. Hotel ini dipersembahkan oleh Bupati Tapanuli Utara untuk tim Jalan Kaki 305,65 Km.

Malam ini suasana terasa semakin hangat dengan keberadaan tiga putra dan putri Togu yaitu Nous, Bumi dan Langit. Beberapa kali Togu melempar lelucon kepada mereka. Terlihat pancaran bahagia dari wajah bapak tiga orang anak ini, karena hari ini ia dapat berkumpul kembali dengan keluarganya. Santi istri Togu membawakan makan malam Mie Soup untuk kami. Perpaduan Mie dengan kuah yang hangat, kental dan manis membuat rasanya semakin lezat di lidah. Setelah kenyang menyantap Mie Soup, kami juga dibawakan pencuci mulut 8 buah durian oleh Gohan. Dalam hitungan menit durian – durian itu habis kami lahap. Setelah makan malam, kami semua beristirahat untuk mengumpulkan energi di hari ketujuh. ikuti terus perjalanan aksi Togu Jalan Kaki 305,65 kilometer keliling Danau Toba di www.literasinusantara.com.

Literasinusantara.com akan terus berkomitmen untuk mendukung kegiatan inspiratif dari seluruh komunitas dan taman baca di Indonesia, guna menyebarkan virus-virus literasi di wilayah mereka.

Liputan Jalan Kaki 305,65 Km ini merupakan rangkaian #JelajahLiterasi. Program ini merupakan kolaborasi antara www.literasinusantara.com dan kompas.com. Kami mengunjungi sekaligus ingin menularkan semangat juang dari komunitas dan taman baca diseluruh pelosok negeri.

Baca Kisah Aksi Jalan Kaki 305,65 Km Hari Sebelumnya :

Hangatnya Sambutan Kota Dingin, Kisah Togu Jalan Kaki 305,65 Km; Hari Kelima

Leave your vote

1 point
Upvote Downvote

Total votes: 1

Upvotes: 1

Upvotes percentage: 100.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Total
10
Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…