Kedai Kopi Hello Toba milik teman Togu, Paul Binsar dan Simon Siregar menjadi tempat bermalam kami. Kedai kopi ini sekaligus menjual beragam pernak-pernik seperti kaos, tas, pouch dll, yang dapat dijadikan buah tangan.

Keluarga besar Togu masih bersama kami, sehingga makan malam kali ini masih terjamin. Suasana malam semakin akrab ketika kami bernyanyi bersama diiringi petikan gitar yang dibawakan oleh Boby.

Kemarin Togu berhasil menempuh jarak sejauh 272,4 kilometer. Masih ada jarak 33 kilometer untuk mencapai 305,65 kilometer

Baca kisah hari pertama :

Menjaga Mimpi Anak-Anak Danau Toba, Kisah Togu Jalan Kaki 305.65 Kilometer ; Hari Pertama

 

Hari Terakhir Menaklukan Danau Toba

Senin 26 November 2018 adalah perjalanan terakhir Togu menaklukkan lingkar luar Danau Toba seluas 305,65 kilometer. Perjalanan kami dimulai dari Balige menuju Parapat. Rute kali ini tidak begitu sulit. Medan jalan yang Togu lalui datar dan tidak banyak tanjakan.

 

Kunjungan Tim Literasinusantara dan Alusi Tao Toba ke SD Negeri no. 173522 Balige, Kabupaten Tobasamosir

 

Baca kisah hari kedua :

Langkah yang Sempat Terhenti, Kisah Togu Jalan Kaki 305,65 Km; Hari Ketiga

 

Pemberian donasi berupa buku bacaan dari Gramedia dan Literasinusantara

Tim kami dibagi menjadi dua, tim pertama menemani Togu melanjutkan aksi jalan kaki dan tim yang kedua mengunjungi sekolah. Sekolah yang kami kunjungi kali ini yaitu SD Negeri no. 173522 Balige, Kabupaten Tobasamosir. Disana tim dari Gramedia Kak Alchia memperkenalkan Literasinusantara serta menjelaskan tujuan kami mendukung aksi ini. Kunjungan ini ditutup dengan pemberian donasi berupa buku bacaan dari Gramedia dan literasinusantara.

 

Di hari terakhir ini Togu tidak sendiri, selain ditemani oleh Biston. Togu juga kedatangan tamu istimewa dari Thailand yaitu Jane. Wanita berparas cantik ini adalah seorang traveler yang sudah keliling se-asia pasifik. Saat ini ia sedang berlibur ke Danau Toba. Jane baru sampai di Balige hari Minggu 25 November 2018 jam 11 siang dan ikut bermalam di kedai kopi bersama kami. Selama jalan kaki dengan Togu, Jane juga ditemani Paul Binsar pemilik Kedai Kopi Hello Toba.

 

Togu dan tim makan siang dirumah Amang Jesral Tambunan

Di kilometer ke 22 tepatnya jam 13.00 WIB, kami berhenti sejenak untuk makan siang di rumah Amang Jesral Tambun. Disana kami disediakan makanan tradisional ayam sirapege dan sayur ikan mujair bumbu kuning yang dipadukan dengan tahu. Rasa makanan khas tradisional Batak ini sangat menggugah selera. Kami semua makan dengan lahap sebelum melanjutkan perjalanan kembali.

 

Jesral Tambun adalah seorang pengukir tradisional khas Batak. Ukirannya pernah dibeli turis Jerman dengan harga Rp.700.000 dan Belanda dengan harga Rp. 1.000.000. Jangka waktu untuk menghasilkan karya seni tersebut tergantung besar kecilnya ukiran. Sama halnya dengan pekerjanya, jika ukirannya sedikit dapat dilakukan sendiri namun jika banyak Amang Jesral harus dibantu oleh temannya.

Setelah makan siang, kami pamit dengan keluarga Amang Jesral untuk melanjutkan 11 kilometer memuju finish. Siang ini cuaca cerah, matahari terik menyinari perjalanan kami.Terlihat berat dan lelah ayunan langkah kaki Togu karena sudah ratusan jarak ia taklukkan selama 7 hari ini. Sedangkan Biston teman seperjuangannya yang menemani Togu dari hari pertama harus membalut jari kakinya dengan plaster karena mengalami luka yang cukup parah. Namun semua itu tidak mematahkan semangat Togu dan Biston untuk menyelesaikan perjalanan ini sampai kembali ke Parapat.

 

Togu dan tim mengunjungi kantor Kecamatan Lumbanjulu

Sebelum menuju finish, Togu dan tim menyempatkan diri untuk singgah di kantor Kecamatan Lumbanjulu. Sesampainya disana pria bertubuh tegap ini langsung disambut dengan pengalungan petai ke lehernya oleh Bapak Camat Amani Edu Manurung.

 

 

 

Baca juga :

Kembalinya Energi Togu, Kisah Togu Jalan Kaki 305,65 Km ; Hari Keempat

Hangatnya Sambutan Kota Dingin, Kisah Togu Jalan Kaki 305,65 Km; Hari Kelima

 

Setelah mengunjungi Kantor Kecamatan, Togu melanjutkan jalan menuju garis finish. Cuaca yang sering kali berubah – ubah sudah menjadi sahabat kami. Hujan pun datang menyapa di sore ini. Togu dan Biston tetap melanjutkan perjalanan mereka walau hujan membasahi sekujur tubuhnya.

Kendala Di Hari Terakhir

Ditengah perjalanan, Motor beroda tiga dimiliki Togu ini mendadak berhenti dan tidak bisa berjalan. Motor ini biasanya mengiringi Togu selama berjalan kaki mengelilingi Danau Toba. Disana juga banyak terdapat perlengkapan logistik seperti peralatan masak, peralatan tenda, dan lainnya. Tim kami yang sudah jauh mendahuluinya terpaksa harus berputar arah untuk memperbaiki kreta (sebutan motor dalam bahasa Batak) tersebut.

 

Togu berjalan menuju garis finish dengan bendera Merah Putih dipunggungnya

Walaupun tidak diiringi oleh Viarnya, Togu tetap melanjutkan jalan menuju finish. Sebelum mencapai garis finish, bendera merah putih ia kenakan dipunggungnya untuk menandakan kecintaanya terhadap negara Indonesia.  Akhirnya Togu mencapai pita garis finish yaitu di Pantai Bebas Parapat. Tim Jalan Kaki 305,65 kilometer dan keluarga Togu sudah menunggu disana, Azas sebagai perwakilan dari Gramedia menyematkan kain ulos khas tanah batak sebagai tanda misi sudah berhasil dilaksanakan.

 

 

 

“Untuk melakukan aksi ini harus memiliki visi dan misi yang kuat dan yang memotivasi saya adalah anak – anak danau toba agar tetap dapat mendapat akses – akses buku bacaan” kata Togu saat diwawancarai oleh kompas tv

Perasaan haru membendung di hati semua tim jalan kaki 305,65 kilometer. Melihat keberhasilan Togu dan Biston membuat kami semua bangga kepada mereka. Selama 8 hari jalan kaki, medan jalan yang ia tempuh tidaklah mudah.

“Medan jalanan yang aku tempuh tidak pernah terbayang sebelumnya. Ketika jalanan naik dan turunan dikasih Tuhan Hujan, ketika jalanan datar dikasih Tuhan panasnya luar biasa. Memang Tuhan itu maha adil, tapi Tele tetap tempat yang paling dingin” kata Togu

Obat Herbal Tradisional Asal Tanah Batak

Selama melakukan aksi ini, medan jalan yang dilalui Togu tidaklah mudah. Namun setiap malam kaki Togu dibaluri oleh minyak karo. Minyak Karo adalah minyak asli yang diracik sejak ratusan tahun. Proses pengelolahannya melewati banyak tahapan dan alur proses yang melibatkan berbagai jenis tanaman obat yang terdapat di alam pegunungan tanah karo. Terbuat dari rempah – rempah, akar – akar tumbuhan, minyak kelapa dan ekstrak tanaman herbal lainnya. Minyak karo ini dipercaya mempunyai khasiat yang bisa meredamkan kaki kram dan terkilir. Minyak karo membantu Togu untuk memulihkan kakinya yang menemani berjalan ratusan kilometer ini.

Baca kisah hari keenam :

Momen Melepas Rindu, Kisah Togu Jalan Kaki 305,65 Km ; Hari Keenam

 

Kejutan Ulang Tahun Untuk Togu

 

Togu mendapatkan kejutan ulang tahun dari keluarga

Setelah penyematan kain ulos, kami dipersilahkan untuk beristirahat di Kantor Pesit Kartika Chandra Kirana Parapat. Disini pula Togu diberikan sebuah kejutan ulang tahun oleh keluarganya yaitu Santy istri Togu, ketiga putra putri dan ibu mertuanya. Keluarga Togu memberikan sebuah kue bertuliskan “Happy Birthday papa” dengan lilin angka 42 tahun. Togu meniup lilin ini bersama istri dan ketiga putra – putrinya. Rawut kebahagiaan itu terpampang di wajahnya ayah tiga orang anak ini. Satu persatu tim memberikan ucapan dan doa kepada Togu. Setelah itu, kami semua merayakannya dengan menyantap makanan yang dibawakan oleh Santy istri Togu.

“Selama 8 hari ini donasi yang sudah terkumpul sebesar Rp. 81,960,585, donasi akan terus dibuka sampai akhir desember 2018. Dana ini akan kita pergunakan mulai dari Januari 2019” kata Togu.

Malam terakhir ini semua tim menginap di kediaman Togu. kami berjalan beririangan dari Parapat hingga Siantar menggunakan mobil. Sampainya disana, kami semua saling cerita tentang pengalaman selama mengelilingi Danau Toba. Terasa berat untuk mengakhiri perjalanan ini karena banyak sekali kenangan yang tidak akan pernah terlupakan oleh kami.

 

Tim Literasinusantara dan Kompas.com diberikan kain ulos oleh keluarga Togu

Pagi harinya tim dari literasinusantara dan kompas.com bersiap – siap untuk kembali ke daerah masing – masing. Namun sebelum itu, kami diberikan dan disematkan kain ulos oleh keluarga Togu. Kain ulos merupakan salah satu kerajinan tekstil tradisional di Indonesia yang berasal dari Sumatera Utara. Bagi suku Batak kain ini merupakan simbol kasih sayang dari orangtua pada anaknya atau sebaliknya dari anak untuk orangtuanya. Pemberian kain ulos ini tidak boleh sembarangan, karena tidak semua orang berhak menerima dan memberikan kain ini. Hanya mereka yang sudah menikah saja, yang boleh memberikan kain ulos kepada orang lain. Setelah penyematan kain ulos, tim literasinusantara dan kompas.com berpamitan kepada semua tim Alusi Tao Toba. Mengelilingi Danau Toba adalah sebuah pengalaman bersejarah dalam hidup kami.

Literasinusantara.com akan terus berkomitmen untuk mendukung kegiatan inspiratif dari seluruh komunitas dan taman baca di Indonesia, guna menyebarkan virus-virus literasi di wilayah mereka.

Liputan Jalan Kaki 305,65 Km ini merupakan rangkaian #JelajahLiterasi. Program ini merupakan kolaborasi antara www.literasinusantara.com dan kompas.com. Kami mengunjungi sekaligus ingin menularkan semangat juang dari komunitas dan taman baca diseluruh pelosok negeri.

Baca kisah sebelumnya :

Rute Terberat Tigu, Kisah Jalan Kaki 305,65 Km; Hari Ketujuh

Kesan dan Pesan Dari Tim Jalan Kaki 305,65 Kilometer :

Kesan dan Pesan Tim Jalan Kaki 305,65 Kilometer Mengelilingi Danau Toba

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…