Pendiri:Muhammad Ridwan Alimuddin
Kontak: 081355432716
Alamat: Jl. H. toa Desa Pambusuang, Balanipa,Polewali Mandar, Sulawesi Barat

“Buku ini adalah sebingkai jendela kecil buat menatap sisi lain Indonesia yang begitu penting, begitu dekat, namun sekaligus sering ditelantarkan bahkan ditindas.” demikian komentar Nirwan Ahmad Arsuka di sampul buku “Mengapa Kita (Belum) Cinta Laut?”. Nirwan Ahmad Arsuka adalah salah satu intelektual dalam dunia pemikiran, filsafat, dan kepenulisan di Indonesia.

Singkat cerita, 11 tahun kemudian, di dunia maya tepatnya Twitter, Nirwan melempar ide ada perahu yang berfungsi sebagai perpustakaan terapung. Kemudianoleh Nirwan Ahmad Arsuka memberikan kepercayaan kepada Muhammad Ridwan Alimuddin untuk membuat dan melaksanakan pelayaran Perahu Pustaka
Misi utama Perahu Pustaka adalah melayarkan; menyebarluaskan semangat literasi ke masyarakat, khususnya anak kecil atau generasi muda yang selama ini kesulitan mengakses buku-buku.Dalam pelayaran jangka panjang atau beberapa hari, Perahu Pustaka diawaki tiga pelaut asli, Ridwan sebagai nakhoda, dan dua sampai tiga asisten atau relawan yang berperan sebagai pustakawan. Sejak selesai dibuat, Perahu Pustaka telah melakukan beberapa pelayaran di tiga provinsi: Sulawesi Barat (tempat Perahu Pustaka berada), Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.

Saat ini operasional Armada Pustaka masih mengandalkan donasi, baik buku maupun uang. Itu berasal dari pribadi-pribadi yang mendukung gerakan literasi. Ada yang sumbang lima eksemplar, ada sampai ratusan. Salah satunya adalah anak Jusuf Kalla, yang menyumbang buku-buku ilmu pengetahuan populer untuk anak-anak.

Gerakan Sedekah Buku Indonesia juga menyumbang banyak buku. Salah satu sosok yang sangat serius membantu Perahu Pustaka adalah Maman Suherman.
Bersamaan dengan proses pembuatan Perahu Pustaka Ridwan bersama Muhammad Rahmat Muchtar diinspirasi dari Kuda Pustaka di Gunung Slamet kini mengadakan Bendi Pustaka. Bendi Pustaka pun beroperasi di beberapa kecamatan Polewali Mandar. Bersumber sumbangan donasi pada gerakan armada pustaka dibelilah becak bekas yang diberi nama Mappamanarang.

Menyadari bahwa di Mandar tidak hanya berada di pantai atau daerah yang landai, tapi juga di perbukitan atau pegunungan, maka dibuatlah Motor Pustaka. Motor Pustaka diberi nama “Pattekeq”, berarti yang terampil memanjat. Yang terakhir Museum Nusa Pustaka, secara umum adalah perpustakaan konvensional yang berdiam disuatu tempat. Perbedaan perpustakaan konvensional tersebut dengan Armada Pustaka ialah, baik perpustakaannya maupun pembacanya sama-sama bergerak, saling mendatangi.

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…