Sepenggal Perjalanan Komunitas Ngejah

Oleh: Opik (Ketua Komunitas Ngejah)
………………………………………….

Apakah gunanya pendidikan

Bila hanya mendorong seseorang Menjadi layang-layang di ibukota

Kikuk pulang ke daerahnya

Apakah gunanya seseorang

Belajar filsafat, teknologi, ilmu kedokteran, atau apa saja.

Ketika ia pulang ke daerahnya,lalu berkata:

“disini aku merasa asing dan sepi!”

Bait terakhir puisi di atas, yaitu Sajak Seonggok Jagung yang ditulis W.S Rendra, adalah salahsatu inspirasi bagi diri saya, memutuskan menyisihkan waktu, tenaga dan pikiran guna berkegiatan di kampung halaman. Sebagai rasa cinta terhadap kampung halaman, pertengahan Juli 2010 saya mulai merintis sebuah Komunitas Literasi yang kemudian diberi nama Komunitas Ngejah. Sedikit pengalaman saya berkomunitas semasa kuliah, baik pengalaman yang saya cerap dari dalam dan luar kampus kemudian menjadi modal untuk kembali ke kampung halaman dan merintis gerakan literasi melalui Komunitas Ngejah.

Beragam alasan muncul dalam kepala, kenapa literasi menjadi garapan utama? Dua diantaranya adalah: pertama karena keyakinan dalam diri, bahwa kemampuan literasi akan menjadi gerbang bagi kemajuan dalam bidang yang lainnya. Literasi yang di dalamnya terkait kemampuan dan budaya membaca sebagi pondasi, sangat berpotensi mengantarkan sebuah bangsa menuju kemajuan dalam berbagai aspek, termasuk peningkatan kesejahteraan di dalamnya. Kedua, di kampung halaman saya, yaitu di Kampung Sukawangi Desa Sukawangi Kecamatan Singajaya Kabupaten Garut, pun di kampung-kampung sekitar, belum nampak ada gerakan terkait kampanye membaca. Bagimana mungkin budaya yang dipercaya sebagai barometer kemajuan suatu bangsa itu bisa tumbuh, jika fasilitas dan lembaga yang konsen menggelorakan semangat membacapun belum ada.

Dua alasan di atas merupakan dua faktor penting yang menjadi pelecut bagi saya, untuk mencoba merawat kampung halaman melalui gerakan literasi. Realisasi dari pemikiran tersebut pada kenyataannya tidak bisa dilakukan secara instan dan sendirian. Beragam pendekatan harus saya lakukan. Pada awalnya, beberapa orang saudara serta kawan yang notabene tergolong pemuda saya undang minum kopi di rumah orang tua yang pada perkembangannya menjadi sekretariat sekaligus perpustakaan atau Taman Baca Komunitas Ngejah. Pada kesempatan demikian, diskusi santai sengaja saya gulirkan. Ruangan berukuran 3 x 4 yang tak lain adalah kamar pribadi saya, menjadi ruang berbincang mengenai segala hal yang berkaitan dengan isu-isu yang bergulir di tengah-tengah masyarakat. Hal ini sebagai pancingan. Karena sulit rasanya jika langsung menjurus pada ajakan membaca buku. Bisa-bisa orang-orang yang saya ajak berbincang, mengklaim saya “So suka baca buku”. Perlahan, dalam kesempatan itu, pelan-pelasn saya mulai menghembuskan ajakan membaca kepada para pemuda yang sering berkunjung ke sekretariat Komuitas Ngejah. Koleksi pribadi, berupa buku pendidikan, sastra, dan sebagian kecil buku agama saya tawarkan untuk mereka baca. Seiring waktu, rutinitas ngobrol (diskusi santai) di sekretariat Komunitas Ngejah semakin sering, secara otomatis intensitas kawan-kawan yang membaca buku di sekretariat mulai meningkat. Adapun peminjaman buku, pada awal Komunitas Ngejah berdiri saya batasi hanya untuk kalangan tertentu. Hal ini sebagai pencegahan supaya buku tidak hilang karena kelengkapan administrasi belum digarap dengan baik. Sebagian besar pengunjung saya anjurkan untuk membaca di tempat.

Menginjak pertengahan tahun 2011, kegiatan yang bersentuhan dengan para pelajar mulai saya rintis. Ini sebagai usaha memperluas jangkauan gerakan. Waktu itu, saya menghubugi beberapa orang kawan yang kebetulan menjadi Kepala SMP dan SMU sederajat. Kemudian saya mulai membuka gerakan literasi kepada pelajar dengan menawarkan diri memberikan pelatihan jurnalistik kepada mereka, melalui kepala sekolah yang tak lain adalah orang-orang yang sudah saya kenal. Tawaran tersebut ternyata mendapat respon yang cukup menggembirakan. Selama tiga hari dua malam, sekitar 50 orang siswa SMP dan SMU dari dua kecamatan, yaitu Kecamatan Singajaya dan Banjarwangi Kabupaten Garut, melibatkan diri menjadi peserta pelatihan. Beberapa orang kawan dari luar kota, yang menekuni kegiatan literasi saya undang memberikan materi. Pada perkembangannya, Pelatihan Jurnalistik Pelajar mendapat respon yang cukup bagus, dan kemudian dipatenkan menjadi agenda tahunan. Lebih lanjut, pada penyelenggaraan-penyelenggaraan berikutnya, sekitar 150 orang pelajar dari lima kecamatan turut serta ambil bagian. Untuk memberikan ruang bagi mereka para pelajar peserta PJP, kemudian saya bangun sebuah komunitas sub organ Komunitas Ngejah dengan nama JPeGS (Jurnalis Pelajar Garut Seltan). JpeGS pada perkembangannya menjadi ruang bagi mereka belajar menekuni ilmu jurnalistik dasar, tentu saja selain kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan dunia baca. Berbagai karya sederhana anggota JPeGS lebih lanjut mulai menghiasi koran-koran lokal, blog Komunitas Ngejah dan blog pribadi mereka.

Tahun 2012 bagi Komunitas Ngejah adalah tahun berdirinya tonggak kerelawanan. Pemuda, pelajar dan santri yang biasa datang berkunjung untuk membaca atau meminjam buku, mulai saya ajak untuk larut dalam gerakan. Perlahan, kedatangan mereka ke Saung Komunitas Ngejah bukan sekedar untuk membaca dan belajar menulis, melainkan menjadi relawan untuk menyebarkan virus yang sama bagi lingkungannya masing-masing. Sebagai cara untuk memancing orang-orang khsusunya anak-anak dan pemuda, berbagai kegiatan kreatif-rekreatif mulai kami gelar. Beberapa diantaranya yaitu lomba baca puisi, pentas drama, serta panggung hiburan pada peringatan hari besar islam dan nasional. Keberadaan relawan yang mulai melimpah, menjadi kekuatan sendiri bagi gerakan Komunitas Ngejah. Program baru dengan nama Ngejah ka Sakola mulai saya rintis. Bentuknya adalah melalui kegiatan rutin dua atau tiga bulan sekali mengunjungi sekolah. Memberikan pemahaman bahwa membaca itu adalah kegiatan yang sangat penting, serta memberikan wawasan tentang penggunaan internet secara sehat. Tentu saja di akhir kegiatan, ajakan untuk membaca atau meminjam buku di Saung Komunitas Ngejah, saya sampaikan. Seiring waktu, untuk membenahi gerakan, layanan membaca dan peminjaman buku memiliki sub organ tersendiri yaitu melalui Taman Baca AIUEO. Sesuai kemampuan saya pun para relawan, melalui Taman Baca AIUEO kelengkapan administrasi seperti buku pengunjung dan buku peminjaman, serta labelling dan beberapa kelengkapan administrasi lainnya mulai dikerjakan. Spanduk.spanduk atau seelebaran tentang ajakan membaca mulai kami pasang. Jadwal layanan ditetapkan. Siapapun bisa berkunjung ke Taman Baca AIUEO atau Saung Komunitas Ngejah, mulai pukul 08.00 sampai dengan 20.00. Pada tahun yang sama, kegiatan diskusi dengan mendatangkan para penderma ilmu dari luar kota (dosen, seniman, jurnalis, pegiat literasi) semakin sering digelar. Selain itu, pada tahun ini, sumbangan buku dari berbagai pihak meski dengan jumlah yang belum banyak, mulai mengalir.

Pada tahun 2013, jumlah anggota dan relawan semakin bertambah, hal ini menyebabkan ruang sekretariat sering sekali tak mampu menampungnya. Oleh sebab itu, sebuah saung bambu berukuran 4 x 5 m saya bangun, sebagai pusat kegiatan Komunitas Ngejah, persis di halaman rumah orang tua yang sudah berubah fungsi menjadi sekretariat sekaligus perpustakaan. Untuk memperluas kampanye baca tulis ke luar kecamatan, program Gerakan Kampung Membaca dan pembangunan Pojok Baca kami gulirkan. Sebagai penanggung jawab program, maka dipilihalah koordinator program dari para relawan yang menyatakan siap untuk mendermakan waktu, tenaga dan pemikirannya bagi keberlangsungan misi. Dalam hal ini, melalui program kampung membaca, setiap akhir pekan relawan Komunitas Ngejah mengunjungi kampung-kampung terluar yang tersebar di Garut bagian selatan untuk mengajak masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja agar mau membudayakan kegaiatan baca tulis. Setiap kali peyelenggaraannya, selain kegiatan membaca bersama, berbagai kegiatan tambahan seperti menggambar dan mewarnai bersama, membaca puisi, menyanyi dan beragam permainan, serta motivasi membaca, kami selipkan untuk menarik minat masyarakat. Tindak lanjut dari kegiatan GKM (Gerakan Kampung Membaca) adalah pembangun Pojok Baca yaitu berupa pemberian satu atau dua rak dan 150-300 buku untuk dikelola di kampung yang pernah kami kunjungi. Sebagai pengelola Pojok Baca, maka kami melakukan kerjasama dengan penggiat posyandu, ustad dan tukang warung yang menyatakan kesiapannya membantu program yang kami usung. Selain itu, pada tahun ini, kami mulai memiliki kesempatan untuk bisa menimba ilmu dalam berbagai event kegiatan yang diselenggarakan oleh komunitas atau lembaga di luar daerah.

Berikut adalah beberapa dokumentasi kegiatan Komunitas Ngejah dalam bentuk foto:

Berkembangnya gerakan ini tentu saja bukan hasil saya sendiri, namun ditopang oleh para pemuda, pelajar dan santri yang bersedia menjadi pengurus sekaligus relawan untuk menggulirkan gerakan Komunitas Ngejah. Para pemuda yang baru pulang dari kota, setelah menyelesaikan pendidikannya saya ajak untuk bergabung. Dan pada akhirnya, terbentuklah kepengurusan Komunitas Ngejah sebagai berikut:

STRUKTUR KEPENGURUSAN KOMUNITAS NGEJAH
Ketua : Opik, S.Pd., M.Pd. Sekretaris : Ruli Lesmana, ST Bendahara : Roni Nuroni, ST
Koord. Gerakan Kampung Membaca Iwan Ridwan Koord. Literasi Media & Invormasi Ruli Lesmana, ST
Koord. Seni Sastra Deri Hudaya, S.Pd., M.Hum Koord. Pojok Baca Sidiq Susanto
Koord. Jurnalis Pelajar Neng Rifa Koord. Aset Komunitas Wina Mulyati
Koord. Taman Baca AIUEO Opik Koord. Relawan Rosita
Koord. Layanan Budi Iskandar Koord. Mading Seli Yuliarti
Koord. Humas Roni Nuroni, ST Koord. Satelit Ngejah Novia Susanti Dewi
Koord. Ngejah Junior Koord. Ngejah Ka Sakola

Selain nama-nama di atas, seabreg nama lainnya yang didominasi oleh para pelajar pernah bergabung menjadi relawan. Mereka silih berganti, sesekali membantu gerakan Komunitas Ngejah. Di luar itu, penggiat posyandu, ajengan dan tukang warung juga terlibat melakukan kerja kerelawan dengan cara mengelola Pojok Baca.
Tanpa dikira, mulai tahun 2014, kami mulai dikenal orang secara luas. Beberapa surat kabar lokal mulai menghubungi untuk meliput kegiatan kami. Setalah itu disusul oleh media-media nasional, baik surat kabar ataupun tv. Beberapa di antaranya, Kompas, Media Indonesia, Republika, Kabar Priangan, Radar Garut, Radar Tasikmalaya, Majalah Aksara, Majalah Kandaga, Majalah Cupumanik, Negeri 4 Pilar TVRI, IMS NET TV, Kick Andy Metro TV, Liputan SCTV Fokus Indosiar, dan Refleksi DAAI TV meliput berbagai kegiatan yang kami lakukan. Beberapa berita media cetak yang pernah meliput kami dan kebetulan arsipnya terdokumentasi adalah sebagai berikut:

Andy On Location, liputannya dilakukan pada bulan puasa. Tadinya saya tidak tahu, bahwa kru tersebut tim Kick Andy, karena mereka mengatakan bahwa liputan tersebut hanya untuk kebutuhan berita. Setelah enam hari melakukan peliputan, tim kemudian pamit dan menyatakan akan kembali, jeda satu hari. Sesuai janji mereka, tim datang kembali, namun kedatangannya kali ini ditemani seseorang yang kerap kali saya lihat membawkan acara Kick Andy. Tak lain dan tak bukan, ia adalah Andy F Noya. Waktu itu saya bersama relawan yang sedang berkumpul di Saung Komunitas Ngejah, sangat kaget. Ternyata kami masuk liputan Kick Andy On Location. Alhamdulillah, melalui kepanjangan tangan Kick Andy, kami menerima bantuan uang sebesar 100.000.000. Uang ini kemudian digunakan untuk menata halaman saung, membeli kamera, infokus dan menambah rak untuk pojok baca.

Liputan-liputan lebih lanjut memberi kabar kepada banyak pihak tentang keberadaan kami. Kemudian, kami sering diundang untuk bercerita seputar gerakan Komunitas Ngejah atau sekedar menghadiri kegiatan-kegiatan literasi. Undangan ini lebih lanjut menjadi lahan mencari pengalaman bagi saya, pun relawan yang diutus untuk mengenal kegiatan komunitas lain dan juga daerah lain. Pada tahun ini juga, atas nama Komunitas Ngejah saya diundang untuk menyusun Nasmik Kurikulum Kepemudaan oleh PUSKURBUK.
Terkait liputan-liputan kegiatan di TV serta beberapa dokumentasi lainnya, beberapa diantaranya bisa dilihat melaui link di bawah ini:

Informasi lebih lengkap mengenai kegiatan kami bisa dilihat melalui blog sederhana yang kami kelola dengan alamat www.komunitasngejah.wordpress.com

Tahun 2015, donasi buku mulai banyak. Selain itu kami juga mendapatkan dana hibah dari kemendikbud sebesar 50.000.000 untuk menambah buku, rak dan satu buah komputer. Apresiasi dari banyak pihak mulai berdatangan. Pada tahun ini, beberapa penghargaan kami terima. Diantaranya:
1.Anugerak Pelopor Pemberdayaan Masyarakat Bidang Pendidikan dari Gubernur Jawa Barat diberikan kepada saya sebagai pendiri Komunitas Ngejah

2. Anugerah Nugra Jasadarma Pustaloka dari Perpusnas diberikan kepada saya sebagai masyarakat yang mempelopori pemasyarakatan budaya baca

3. Anugerah TBM Kreatif-Rekretaif dari Mendikbud diberikan kepada TBM aiueo, sub organ Komunitas Ngejah

4. Anugerah Peduli Pendidikan dari Mendikbud diberikan kepada Komunitas Ngejah sebagai kelompok masyarakat yang berperan aktif memajukan dunia pendidikan

Kebahagian yang lebih dari sekedar menerima penghargaan bagi saya adalah, manakala melihat anak-anak kecil semakin akrab dengan buku. Ada banyak adegan yang membuat saya terharu, dan tidak pernah saya pikirkan saat mulai merintis Komunitas Ngejah. Seperti suatu ketika, saya menyaksikan beberapa orang anak SD yang berebut cita-cita. Awalnya, mereka membaca buku-buku aneka profesi, lalu kemudian mereka saling memperebutkan profesi yang mereka anggap baik. Dari bacaan mereka menemukan mimpinya secara tidak langsung. Sama halnya saat kakak perempuan saya yang menyatakan keinginannya menjajdi guru PAUD selepas membaca buku Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela Penulis: Tetsuko Kuroyanagi. Ia tertarik mengamalkan apa yang ia baca dari buku. Meski pun ia hanya lulus PAKET C (Setara SMA), keinginannya menjadi guru begitu besar karena merasa tertantang ingin mengaplikasikan apa yang ia baca dari buku tersebut. Peristiwa-peristiwa semacam itu, kemudian menjadi suntikan bagai saya, pun relawan untuk terus melanjutkan gerakan, meski dengan segala keterbatasan.

Tahun 2016, kegiatan dan jangkauan Komunitas Ngejah semakin meluas. Kami mulai melakukan Gerakan Kampung Membaca dan membangun Pojok Baca di Tasikmalaya bagian selatan. Ruang-ruang untuk berbagi pengalaman dan mencari ilmu bagi saya, pun relawan semakin terbuka. Tahun ini tiga orang relawan mendapatkan beasiswa pelatihan menulis ke Singapura. Tentu saja capaian-capaian tersebut tidak saya bayangkan pada awal akan mendirikan Komunitas Ngejah. Namun ada PR besar bagi saya selaku pendiri, tentang bagaimana membangun usaha ekonomi komunitas agar gerakan ini tetap berjalan. Sejauh ini dana operasional kegiatan masih dipenuhi secara swadaya pengurus. Ke depan saya membayangkan, kawan-kawan relawan tidak hanya sekedar melakukan kerja kerelawan akan tetapi melakukan usaha ekonomi, minimal untuk memenuhi kebutuhan dana operasional. Realisasi dari kegelisahan ini maka lahirlah konsep jualan kaos Gerakan Kampung Membaca yang dijual secara online. Saat ini saya sedang bergerilya mealui dunia maya menawarkan kaos Gerakan Kampung Membaca. Hasil penjualan akan saya gunakan untuk dana operasional. Setidaknya usaha ini sedikit memperpanjang napas gerakan, sebelum kami memiliki usaha ekonomi komunitas.

Terlepas dari permasalahan tersebut, saat ini, Komunitas Ngejah tidak hanya sekedar menjadi ruang untuk membaca dan meminjam buku, melainkan menjadi ruang aktualisasi diri, ruang beternak mimpi, bagi kaum muda di kampung kami. Dengan segala keterbatasan ilmu, kami senantiasa belajar bersama, belajar berkaraya dan belajar berbagi. Semoga gerakan literasi semakin bersemi di kampung kami.***

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…