Mudik lebaran memang sudah menjadi budaya kita masyarakat Indonesia. Biasanya mereka yang bekerja di kota-kota besar kembali ke kampung halamannya membawa beragam oleh-oleh dan cerita. Tapi karena mudik lebaran adalah peristiwa sekali setahun yang dirayakan banyak sekali orang secara serentak, pasti ada kejengkelan-kejengkelan di perjalanan seperti masalah macet.

Karena macet memang menyebalkan, paling tiak, kita bisa membuatnya tidak semakin menyebalkan. Kamu bisa membawa bahan bacaan yang seru untuk dinikmati selama perjalanan mudik lebaran. Beberapa buku kumpulan cerpen yang akan kami bagikan di bawah ini adalah buku kumpulan cerpen terbaik versi Goodreads.

Buku kumpulan cerpen juga sangat cocok dijadikan teman perjalanan karena selain menjadi bacaan dalam sekali duduk, kamu juga bisa berhenti di tengah halaman buku dan melakukan hal lain tanpa khawatir. Yuk langsung saja, berikut 5 buku kumpulan cerpen untuk menemani mudik lebaranmu:

1. Leila S. Chudori – 9 dari Nadira

Ceritanya begini: di sebuah pagi yang murung, Nadira Suwandi menemukan ibunya tewas bunuh diri di lantai rumahnya. Kematian sang ibu, Kemala Yunus – yang dikenal sangat ekspresif, berpikiran bebas, dan selalu bertarung mencari diri – sungguh mengejutkan. Tewasnya Kemala kemudian mempengaruhi kehidupan Nadira sebagai seorang anak (“Melukis Langit”); seorang wartawan (“Tasbih”); seorang kekasih (“Ciuman Terpanjang”); seorang istri, hingga akhirnya membawa Nadira kepada sebuah penjelajahan ke dunia yang baru, dunia seksualitas yang tak pernah disentuhnya (“Kirana”).

Buku ini terdiri dari 9 cerita dengan tema tentang kehilangan. Kompleksitas cerita tersebut tidak mengurangi kenikmatan alur cerita yang ditulis oleh Chudori. Kamu pasti bakal ketagihan untuk buka halaman lagi, lagi, dan lagi.

Mudik Lebaran Baca Buku Kumpulan Cerpen
Leila S. Chudori, seorang jurnalis dan penulis 9 dari Nadira. Sumber

2. Farida Susanty – Karena Kita Tidak Kenal

Orang asing. Dua kata tersebut adalah garis besar isi dari buku kumpulan cerpen ini. Ceritanya memang seputar orang asing, merasa asing dengan diri sendiri, membagi rahasia dengan orang asing, mencoba menaring perhatian orang asing, dan memengaruhi hidup orang-orang asing.

Berisi 16 buah cerpen, dengan tema besar yang dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, tergantung bagaimana kita merasakan plot ceritanya dengan pengalaman yang pernah kita alami. Dengan adanya cerita yang dapat dimaknai melalui berbagai sudut pandang, maka kita akan dapat melihat manusia dalam beragam versinya.

Baca juga: 10 Buku Indonesia Terbaik Sepanjang Masa Versi Goodreads

3. A.A. Navis – Robohnya Surau Kami

Buku masuk juga dalam daftar Buku Indonesia Terbaik Sepanjang Masa versi Goodreads seperti pernah diulas sebelumnya. Buku kumpulan cerpen sosio-religi ini terbit pada 1956. Robohnya Surau Kami dianggap sebagai salah satu karya monumental dalam dunia sastra Indonesia. Berisi 10 cerpen, di mana dalam setiap cerpennya, A.A. Navis menampilkan Indonesia di zamannya dengan penuh kegetiran.

Kata-kata satir dan cemoohan akan kekolotan pemikiran adalah sedikit gambaran manusia Indonesia saat itu masih relevan hingga saat ini. Jika kamu menggeluti, atau setidaknya ingin terjun lebih dalam di samudra sastra Indonesia, Robohnya Surau Kami harus jadi prioritas bacaan, apalagi saat terkena macet mudik lebaran.

Mudik Lebaran Baca Buku Kumpulan Cerpen
A.A. Navis, sang penulis Robohnya Surau Kami yang jadi salah satu patokan sastra Indonesia hingga sekarang. Sumber

4. Umar Kayam – Seribu Kunang-kunang di Manhattan

Manhattan, New York, Amerika Serikat menjadi latar tempat utama dari buku kumpulan cerpen ini. Seribu Kunang-kunang di Manhattan pertama kali diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada 1972. Memuat enam cerpen, ditulis saat Umar Kayam menetap di New York sebagai pengamat sastra dan budaya. Melalui bakatnya, Umar Kayam mampu merekam situasi New York dan seisinya dengan cermat di mana saat kita membacanya, kita dapat melihat detil-detil kecil yang disampaikan secara efektif dan tentunya tidak muluk-muluk. Melalui mata yang jujur, Umar Kayam menyarikan apa yang ia lihat dan alami di New York menjadi cerpen-cerpen bernas yang wajib jadi bacaan kita semua.

Baca juga: Fakta Mengejutkan 9 Manfaat Membaca Cerita Fiksi

5. Dee Lestari – Filosofi Kopi

Suka kopi? Pernah nonton Filosofi Kopi tentunya? Ya, film tersebut adalah adaptasi dari buku Dee yang berjudul Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade. Buku ini memang begitu fenomenal dan mengangkat kekayaan biji kopi yang kita miliki. Dee pun, melalui buku ini, ingin menghadirkan bagaimana perjuangan seorang yang memiliki hobi terhadap kopi dan memaknai kopi dari sudut pandang kehidupan. Buku ini memenangkan penghargaan sebagai karya sastra terbaik pada 2006 oleh majalah Tempo. Di tahun itu pula, Filosofi Kopi berhasl dinobatkan menjadi 5 Besar Khatulistiwa Award kategori fiksi.

Sumber rujukan

Leave your vote

1 point
Upvote Downvote

Total votes: 1

Upvotes: 1

Upvotes percentage: 100.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…