Pada tahun-tahun terakhir ini, para pemerhati dan pelestari peninggalan naskah kuno mulai beralih ke alat digital. Pasalnya, ada banyak keuntungan yang didapat melaluinya. Tidak hanya dapat dibersihkan dan disimpan -walau prosesnya rumit-, tetapi mendigitalisasi naskah kuno juga dapat memungkinkan lebih banyak orang mengaksesnya dengan mudah daripada ketika naskah tersebut masih dalam bentuk fisik. Kendati demikian, ketika harus mendigitalisasi naskah kuno tersebut, dibutuhkan lebih dari sekadar memindai halaman ke alat pemindai (scanner).

Tentunya mereka para ahli telah mempalajari bagaimana proses pembuatan buku untuk memahami bagaimana naskah dan dokumen kuno dapat disatukan maupun dibedah. Mereka juga harus mengerti bahan apa yang cocok digunakan untuk sebuah manuskrip yang rapuh. Sementara itu, mengikat kertas adalah teknik yang umum untuk merekatkan halaman-halaman pada zaman dahulu. Dengan era dan daerah yang berbeda, para ahli naskah kuno juga harus menggunakan teknik yang berbeda untuk warisan tersebut tetap utuh, menurut laporan Larry Humes.

Baca juga: Perjalanan Panjang Kucing di Dunia Sastra, Sejak Era Klasik Hingga Kini

“Dengan cara yang hampir sama, Anda tidak dapat mengembalikan buku abad ke-16 seperti halnya buku abad ke-20,” ujar seorang ahli naskah kuno Sonja Jordan-Mowery kepada Humes. Para ahli perlu kepekaan dalam mengotak-atik naskah kuno yang ditelitinya. Tetapi seperti jenis pekerjaan “reparasi” lainnya, selalu ada kemungkinan penggunaan bahan yang salah. Hasil terburuknya dapat menghancurkan artefak yang tak ternilai, sementara beberapa hanya mengaburkan informasi karena kurang teliti atau kurang terampil, mengutip apa yang ditulis Flavio Marzo untuk laman blog British Library bertajuk Collection Care. 

Baca juga: Apa Saja Buku-buku Berbahaya dan Terlarang yang Pernah Ditulis di Dunia?

Dalam satu contoh terkini, Marzo diberi sebuah manuskrip dari British Library’s Delhi Collection untuk mendigitalisasi naskah kuno tersebut. Namun upaya restorasi sebelumnya telah menyebabkan kerusakan sedemikian rupa pada ikatan halaman-halaman manuskrip, sehingga tidak memungkinkan untuk melihat atau memindai sebagian teks pun. Ketika Marzo membuka kancing jahitan untuk memperbaiki manuskrip itu, ia menemukan adanya serangkaian keterangan tersembunyi di dalam tepi halaman, serta set coretan mencurigakan di bagian dalam sampul naskah. Ketika mencoba mendekodekan, mereka menemukan bahwa coretan-coretan yang sebelumnya tersembunyi adalah teka-teki berkode yang diterjemahkan menjadi “Aku melihatmu tetapi kamu tidak bisa melihatku.”

Mendigitalisasi Naskah Kuno
Keterangan tersembunyi di tepi halaman yang terungkap oleh peneliti. Sumber

Seperti yang Marzio tulis, para ahli digitalisasi naskah kuno bekerja keras untuk membuat kesatuan pada lembaran-lembaran yang tercecer dan terpisah-pisah, demi menjaga keunikan dan informasi berharga dalam naskah kuno tersebut.

 

RUJUKAN

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…