Transparansi adalah hal penting dalam budaya kerja di banyak perusahaan saat ini.

Hal ini didorong oleh perubahan struktur dunia kerja dimana karyawan selalu mencari pengetahuan, kejelasan, dan kepercayaan dari yang mempekerjakan mereka.

Fakta ini dilengkapi dengan teknologi canggih yang memungkinkan kemudahan akses terhadap fakta dan opini yang ada tentang rincian pekerjaan yang dulu hanya diperuntukkan untuk kalangan tertentu saja.

Menurut keterangan dari Jobstreet.com yang diterima Kompas.com,  budaya kerja transparan bisa menjadi teman atau musuh, tergantung seberapa jauh kamu menjalaninya dan bagaimana menanganinya.

Satu hal lagi, media sosial telah membawa budaya kerja transparan ke ranah yang lebih modern.

Banyaknya ponsel pintar yang dilengkapi dengan fitur kamera dan video perekaman, memungkinkan karyawan dengan mudah mendokumentasikan dan berbagi informasi secara terbuka yang biasanya informasi tersebut tersimpan baik oleh perusahaan.

Ada juga berbagai situs pekerjaan, forum diskusi dan berbagai situs peringkat yang mendokumentasikan etika pekerjaan dan budaya perusahaaan, bahkan mengungkapkan rincian seperti gaji, manfaat dan fasilitas lainnya untuk perbandingan yang kompetitif.

Selain itu, pengguna sama-sama dapat mempublikasikan pengalaman mereka dengan perusahaan manapun, baik itu pengalaman yang baik ataupun buruk.

Baca juga: Literasi Budaya dan Kewargaan: Pengertian, Tantangan, dan Peluang

Oleh karena itu, perusahaan harus selalu siap untuk menangani secara professional skenario dan tindakan budaya etik kerja yang tidak terduga setiap saat atau menghadapi konsekuensi memalukan dan bahkan mengalami kerugian yang parah seperti halnya United Airlines.

Perusahaan asal AS itu baru-baru ini mengalami kerugian hampir mencapai 1 miliar dolar AS setelah terjadinya kesalahan manajemen pada peristiwa penerbangan yang terlalu padat.

Di sisi lain, ada yang mengatakan bahwa kejujuran adalah kebijakan terbaik. Hal pertama dan terpenting, transparansi menarik bagi kebanyakan generasi muda (Millenials dan Generasi Z).

Oleh karena itu, memiliki budaya transparansi adalah satu cara untuk memastikan bisa menarik dan mempertahankan sumber daya manusia tersebut.

Budaya kerja transparan juga meningkatkan keterlibatan karyawan karena dapat mengembangkan pencapaian tujuan dan kepuasan bekerja ketika ada kepercayaan.

Hal penting lain, sama hal nya dengan berita buruk yang menyebar melalui media sosial, transparansi juga bisa menimbulkan dampak positif di tempat kerja Anda melalui reputasi yang baik.

Jadi, seberapa jauh Anda akan mengembangkan budaya kerja transparan?

Memberikan informasi gaji

Salah satu isu khusus yang penting bagi kita semua adalah apakah informasi tentang gaji dan upah itu harus diberikan secara terbuka atau tidak.

Kerahasian gaji telah menjadi norma umum selama berpuluh-puluh tahun dan kebanyakan dari kita merasa tidak nyaman jika kita diminta untuk mengungkapkan berapa gaji kita.

Kerahasiaan gaji dapat menyebabkan peningkatan ketidaksetaraan dan karyawan cenderung merasa tidak aman ketika mereka tidak mengerti bagaimana kebijakan gaji pekerjaan mereka, mengapa beberapa karyawan dibayar lebih tinggi daripada mereka, dan mereka terus-menerus merasa kurang dihargai.

Di sisi lain, ketika karyawan tahu seberapa mereka layak dan berbagi detail gaji menjadi percakapan sehari-hari dikantor, mereka akan menjadi lebih termotivasi untuk memperbaiki diri untuk menaikan gaji mereka.

Namun, transparansi gaji tidak sesuai dengan semua kebijakan. Perusahaan yang berbeda akan berjalan dengan baik dengan tingkat transparansi gaji yang berbeda pula.

Baca juga: Hewan Mamalia Penghuni Perpustakaan Ini Jadi Daya Tarik Turis

Contohnya, jika kebanyakan karyawan di perusahaan Anda adalah generasi Millenial, maka transparansi gaji dapat diterima namun budaya ini tidak cocok dengan generasi yang lebih tua karena mereka menganggap sebagai pelanggaran terhadap privasi mereka.

Akan lebih baik jika Anda memulai dengan sedikit- demi sedikit dari pada langsung melakukan transparansi gaji secara terbuka, pertimbangkanlah untuk mengungkapkan hanya cara untuk menghitung gaji atau standardisasi pekerjaan ke tingkat tertentu dan mengungkapkan kisaran gaji untuk setiap tingkatannya.

Menghilangkan hambatan komunikasi

Contohnya, ketika pemimpin berbagi informasi tentang kunci keputusan terbaru mereka atau kesehatan keuangan perusahaan, karyawan akan merasa lebih terlibat dan dihargai. Hal ini juga dapat meningkatkan produktivitas dan moral kinerja mereka.

Di sisi lain, mengungkapkan terlalu banyak informasi kepada karyawan, khususnya ketika bagaimana tim mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas mereka, akan lebih merugikan.

Pada akhirnya, budaya kerja transparan harus tetap ada. Ingatlah bahwa sesuatu yang terlalu transparan akan menyebabkan kerugian dan pada saat yang sama terlalu tertutup juga bisa menyebabkan kerugian pula.

Jika perusahaan Anda belum siap untuk budaya transparansi yang seutuhnya, maka mulailah dengan menemukan keseimbangan yang tepat. Membangun dasar kepercayaan yang kuat di tempat kerja, dengan komunikasi yang lebih terbuka untuk mempermudah proses berbagi informasi dan saling mengingatkan.

Sesuaikan budaya kerja yang transparan yang sesuai dengan pekerjaan. Ketika perusahaan siap untuk menerima budaya yang lebih transparan, maka kamu segera akan menuai hasil positif.

SUMBER: KOMPAS.COM

Leave your vote

1 point
Upvote Downvote

Total votes: 1

Upvotes: 1

Upvotes percentage: 100.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…