• Dalam ilmu psikologi dikenal istilah pendekatan kognitif. Di pendekatan kognitif ada 3 cara mendeteksi kebohongan seseorang: memberi beban kognitif, meminta seseorang untuk bercerita lebih banyak, dan melempar pertanyaan-pertanyaan tak terduga.
  • Ulasan studi terbaru menunjukkan bahwa pendekatan kognitif mampu meningkatkan akurasi seseorang dalam mendeteksi suatu kebohongan.
  • Tanda-tanda kebohongan meliputi perilaku verbal maupun nonverbal seperti bahasa tubuh, kegugupan, serta respons jawaban yang tidak pasti.

Mengacu pada sebuah riset, sekitar 80-90 persen makna suatu pesan terdapat pada bahasa tubuh. Namun, tidak semua orang jeli dalam membaca bahasa tubuh. Untuk memandu dan melatih kejelian kita dalam membaca bahasa tubuh seseorang, terdapat buku rujukan komprehensif yang ditulis oleh ahli bahasa tubuh dari Australia yang berjudul, “Kita Bahasa Tubuh: Memahami Orang Lain Melalui Bahasa Tubuhnya

Di luar itu, pada dasarnya setiap berbohong setiap waktu; seseorang menutupi suatu informasi dan meminimalkan atau bahkan melebih-lebihkan sesuatu. Seseorang dapat berbohong untuk alasan yang bermacam-macam: Untuk menjaga posisi, menjaga perasaan, untuk mendapatkan apa yang dimaui, atau menghindari konsekuensi serius.

Namun setiap orang juga menyukai kejujuran. Kita tak jarang menginginkan orang lain untuk jujur. Dan kita cenderung bereaksi negatif terhadap ketidakjujuran relasi romantis, hubungan orang tua-anak, lingkar pertemanan, kolega kerja, dan lain-lain.

Penelitian menunjukkan bahwa ketidakjujuran cukup sulit untuk dikenali; tidak ada cara yang mudah untuk mendeteksi kebohongan seseorang. Khususnya, walaupun penelitian telah mengidentifikasi tanda-tanda verbal maupun nonverbal tertentu dalam kebohongan, tetap saja tidak ada perilaku pasti yang menandakan suatu kebohongan adalah kebohongan.

Walaupun sulit mengetahui kebohongan seseorang, adakah cara mendeteksi kebohongan?

Cara mendeteksi kebohongan dapat mengacu pada temuan baru dari Giolla dan Luke tentang pendekatan kognitif, yaitu upaya meningkatkan akurasi untuk mendeteksi kebohongan seseorang. Berikut ulasannya:

Pendekatan kognitif: Cara untuk mendeteksi kebohongan seseorang

Bagaimana implementasi pendekatan kognitif atau cara untuk mendeteksi kebohongan seseorang? Berikut caranya.

1. Berilah beban kognitif 

Beban kognitif berkaitan dengan perhatian dan memori. Dengan menambah porsi kerja otak seseorang, maka kita semakin dekat dengan kebenaran untuk mendeteksi kebohongan seseorang. Bila beban kognitif seseorang ditambah, menurut penelitian, orang tersebut akan lebih kesulitan mencari alasan untuk menutupi kebenaran.

Misalnya, meminta seseorang untuk menuturkan kronologi cerita secara terbalik, dimulai dari akhir ke permulaan. Selain itu, kita juga bisa meminta padanya melakukan tugas lain seperti menyapu saat ia bercerita. Atau yang lebih mudah lagi, tataplah matanya secara intens. Dengan cara-cara seperti itu, tingkat akurasi kita dalam mendeteksi kebohongan seseorang akan semakin tinggi.

2. Mintalah untuk berbicara lebih banyak 

Umumnya, seseorang yang berkata jujur akan dengan cepat menyediakan informasi relevan yang kita minta. Pembohong, sebaliknya, tidak akan memberikan informasi secara mendetail dan kerap kali berputar-putar. Respons mereka biasanya tidak konsisten.

Satu teknik yang bisa kita gunakan adalah dengan mengajaknya menggambarkan suatu peristiwa atau objek secara mendetail untuk memicu orang tersebut juga memberikan jawaban yang sedetail mungkin.

Bila terdapat ketidakcocokan cerita dengan kesaksian atau informasi yang kita maupun orang lain punya, dapat diasumsikan ia berbohong.

3. Lempar pertanyaan tak terduga

Orang yang berbohong kerap membuat mekanisme pertahanan yang telah ia pikirkan sebelumnya. Biasanya, ia telah menyiapkan berbagai pertanyaan. Bila seseorang menanyakan ini, maka ia akan menjawab ini, dan seterusnya. Untuk memutus rantai ini, maka kita perlu melemparkan pertanyaan tak terduga.

Caranya? Kita bisa menanyakan hal-hal yang tidak berkaitan langsung dengan peristiwa penyebab kebohongan tersebut.

Contohnya, ada di mana ia sewaktu peristiwa terjadi, bersama siapa ia, apa alasannya, dan lain-lain. Bila kita membandingkan jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut pada orang jujur, terdapat perbedaan yang mencolok. Orang-orang jujur akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tak terduga itu dengan lebih cepat dan konsisten ketimbang orang yang sedang berbohong.

Baca juga:

Kenali Ciri-ciri Ini untuk Mengetahui Kepribadian Gelap Seseorang

Mengapa Kita Suka Bergosip? Pro dan Kontra Menurut Psikolog

 

RUJUKAN:

Psychology Today

Sumber gambar: Medical Daily

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…