Penulisan kata berimbuhan sering sekali kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, entah itu di media sosial maupun dalam tugas sekolah.

Pertama, pahami dahulu kata dasar. Kata dasar adalah kata yang utuh tanpa diberi imbuhan apa pun. Tidak ada kata imbuhan di awalan (disebut prefiks), sisipan (disebut infiks), di akhiran (disebut sufiks), maupun gabungan awalan, akhiran, dan sisipan (disebut konfiks) pada kata yang digarisbawahi di bawah ini.

Contohnya:

Kantor pajak penuh sesak.
Saya pergi ke sekolah.
Buku itu sangat tebal.

Lalu apa yang dimaksud kata berimbuhan? Dilansir dari Tirto.id, kata dasar yang telah mendapatkan imbuhan disebut dengan istilah kata berimbuhan

Artikel ini merupakan bagian dari Edisi Penulisan PUEBI. Untuk mengetahui berbagai cara penulisan yang benar sesuai PUEBI, klik di sini.

Berikut contoh penulisan kata berimbuhan yang benar sesuai PUEBI terbaru:

1. Kata berimbuhan (awalan, sisipan, akhiran, serta gabungan awalan dan akhiran) ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya

Contohnya:

berjalan (prefiks: awalan, dari kata dasar jalan)
berkelanjutan (prefiks: awalan, dari kata dasar lanjut)
mempermudah (prefiks: awalan, dari kata dasar mudah)
gemetar (infiks: sisipan, dari kata dasar getar)
lukisan (sufiks: akhiran, dari kata dasar lukis)
kemauan (konfiks: awalan dan akhiran, dari kata dasar mau)
perbaikan (konfiks: awalan dan akhiran, dari kata dasar baik)

Catatan:

Imbuhan yang diserap dari unsur asing, seperti -isme, -man, -wan, atau -wi, ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya.

Contohnya:

sukuisme
seniman
kamerawan
gerejawi

2. Bentuk terikat ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya

Contohnya:

adibusana
aerodinamika
antarkota
antibiotik
awahama
bikarbonat
biokimia
dekameter
demoralisasi
dwiwarna
ekabahasa
ekstrakurikuler

infrastruktur
inkonvensional
kontraindikasi
kosponsor
mancanegara
multilateral
narapidana
nonkolaborasi
paripurna
pascasarjana
pramusaji
prasejarah

proaktif
purnawirawan
saptakrida
semiprofesional
subbagian
swadaya
telewicara
transmigrasi
tunakarya
tritunggal
tansuara
ultramodern

Catatan:

(1) Bentuk terikat yang diikuti oleh kata yang berhuruf awal kapital atau singkatan yang berupa huruf kapital dirangkaikan dengan tanda hubung (-).

Contohnya:

non-Indonesia
pan-Afrikanisme
pro-Barat
non-ASEAN
anti-PKI

(2) Bentuk maha yang diikuti kata turunan yang mengacu pada nama atau sifat Tuhan ditulis terpisah dengan huruf awal kapital.

Contohnya:

Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.
Kita berdoa kepada Tuhan Yang Maha Pengampun.

(3) Bentuk maha yang diikuti kata dasar yang mengacu kepada nama atau sifat Tuhan, kecuali kata esa, ditulis serangkai.

Contohnya:

Tuhan Yang Mahakuasa menentukan arah hidup kita.
Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.

Artikel ini merupakan bagian dari Edisi Penulisan PUEBI. Untuk mengetahui berbagai cara penulisan yang benar sesuai PUEBI, klik di sini.


Demikian contoh penulisan kata berimbuhan yang benar sesuai PUEBI terbaru. Untuk panduan yang lebih lengkap mengenai cara penulisan sesuai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dapat langsung baca bukunya di sini:

Contoh Penulisan Kata Berimbuhan yang Benar sesuai PUEBI
Beli Buku PUEBI di Gramedia.com. Klik di sini.

 

RUJUKAN: 

Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Tirto.id

Sumber gambar artikel: Unsplash.com/NeONBRAND

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…