Membaca buku tua tentu membutuhkan perhatian yang lebih. Semakin berumur buku tersebut, mereka semakin rapuh dan dibutuhkan kehati-hatian ketika membuka sampulnya untuk kali pertama. Dan kini kita patut berterima kasih kepada sebuah kamera tembus pandang baru yang dikembangkan oleh tim riset dari Institut Teknologi Massachusetts (MIT) dan Georgia Tech, di mana para sejarawan suatu hari nanti dapat melakukan penelitian isi buku tua tanpa perlu membukanya.

Purwarupa (prototype) kamera tersebut menggunakan radiasi terahertz, sebuah bentuk radiasi dengan frekuensi rendah yang berada di antara mikrogelombang (microwave) dan inframerah pada spektrum elektromagnetik. Radiasi terahertz ini kerap digunakan seperti pada perlengkapan pemindai (scanners) tubuh yang biasa ditemukan di bandara, kata Carl Engelking dalam laporannya untuk Discover Magazine. Ketika perangkat tersebut didesain untuk mendeteksi benda-benda seperti logam dan plastik, kamera tembus pandang ini dirancang untuk dapat memberitahu perbedaan antara halaman kosong dan tinta yang tertera pada kertas di setiap lembar buku, bahkan walaupun buku tersebut tertutup.

Baca juga: Beginilah Cara Para Ahli Mendigitalisasi Naskah Kuno

“Museum Metropolitan di New York memperlihatkan banyak ketertarikan pada kamera ini, karena mereka ingin, contohnya, melihat ke dalam beberapa buku antik yang tidak ingin mereka sentuh,” kata peneliti dari MIT Barmak Heshmat.

Dikarenakan radiasi terahertz punya reaksi berbeda pada bahan-bahan kimia tertentu, para ilmuwan dapat menggunakan radiasi ini untuk membedakan antara halaman kosong dengan kata-kata yang tertulis atau tercetak pada kertas. Dengan menembakkan radiasi secara cepat ke tumpukan 9 lembar kertas, masing-masing dengan satu huruf di atasnya, Heshmat dan koleganya berhasil membedakan antara tinta dan kertas kosong, yang membuat usaha ini mampu memperlihatkan teks yang tak terlihat, kata Andrew Liszewski dalam laporannya untuk Gizmodo. 

Ketika radiasi terahertz telah lama digunakan dalam teknologi pencitraan, para peneliti harus menyadari suatu cara untuk menangkap sinyal yang didapat dari hasil uji pindai (test scans). Sekelompok peneliti mengembangkan seperangkat algoritma komputer yang mampu menganalisis frekuensi radiasi setibanya gelombang radiasi tersebut menyentuh halaman-halaman dan menyaring keluar distorsi apa pun, sehingga yang tersembunyi dapat dibaca. Untuk menentukan perbedaan di antara tumpukan halaman, algoritma mampu menguraikan ketika sinyal memantul dari celah udara setebal 20 mikrometer di antara mereka, ujar Liszewski.

Baca juga: Perpustakaan Tertua di Dunia yang Rapuh dan Penuh Misteri

“Sebenarnya sedikit menakutkan,” kata Heshmat. “Banyak situs web memiliki surat sertifikasi [captcha] ini untuk memastikan Anda bukan robot dan algoritma ini dapat melewati banyak jenis [captcha] tersebut.”

Yang dihasilkan adalah gambar-gambar dengan resolusi tinggi dan dapat dibaca dengan lebih mudah ketimbang gambar-gambar serupa yang diambil menggunakan sinar X atau ultrasound. Ketika gambar-gambar tersebut secara cepat lebih terdistorsi saat setumpukan halaman yang lebih tinggi dibanding 9 lembar terpindai (scanned), teknologi ini dapat dibilang masih baru. Kamera tembus pandang ini masih perlu dikembangkan lagi sebelum betul-betul siap digunakan untuk keperluan museum, namun suatu hari nanti kamera ini dapat menjadi piranti kritis untuk kebutuhan para pelestari sejarah.

 

SUMBER

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…