Bayangkan kita seorang pemimpin. Dalam situasi krisis, komunikasi yang jelas lebih penting dan lebih sulit ketimbang dalam situasi normal. Orang-orang cenderung haus akan informasi, sehingga kita perlu menjelaskan duduk perkara dan menyampaikan hal-hal apa yang darurat. Namun jika kita tidak terlebih dahulu fokus pada pertanyaan orang-orang tentang apa, bagaimana, dan mengapa, kita akan jatuh pada kebingungan dan sulit mendapat gambaran yang jelas.

Jadi, mengapa kita perlu menjawab “mengapa”?

Contohnya begini: Jika suatu ketika atasan bicara padamu seperti ini, “Saya ingin kamu mengerjakan proyek tambahan ini dan tunda dulu tugas-tugas yang sedang kamu kerjakan sekarang,” apa pertanyaan pertama yang ada di benakmu? Ketika seseorang memintamu untuk mengubah perilakumu saat ini, pertanyaan pertama yang akan muncul biasanya mengapa? Hal ini karena kita tidak akan mencoba sesuatu yang baru atau sulit sebelum kita termotivasi untuk melakukannya.

Orang-orang pun begitu. Jika mereka tidak tahu mengapa sebuah tindakan baru diperlukan, mereka tidak akan mendapat motivasi untuk membantu kita. Mereka akan terus berada di kegiatan yang membuat mereka nyaman.

Nah, pemimpin biasanya terlalu jauh dalam menjawab faktor mengapa dengan dua alasan:

  • Mereka berpikir bahwa menjelaskan apa dan bagaimana adalah cara tercepat untuk dapat mempengaruhi orang-orang,
  • Mereka berpikir bahwa jawaban dari mengapa akan ditemukan dengan sendirinya oleh orang-orang.

Baca juga: 4 Keterampilan Berbahasa yang Penting untuk Dikuasai

Pikirkan tentang situasi sulit di mana orang-orang dalam kondisi yang susah diajak bekerja sama. Katakanlah kita yakin bahwa orang-orang akan mengeksekusi rencana kita dan organisasi kita akan baik-baik saja. Ketika kita memaparkan segala apa dan bagaimana kepada mereka, mereka tetap akan mengerti. Tetapi mereka tidak memahami sebabnya.

Kita telah membuat segala perencanaan, penelitian, skenario, dan lain-lain untuk dapat menghadirkan jawaban dari pertanyaan apa dan bagaimana. Tetapi tidak ada motivasi dari orang-orang di sekitar karena mereka masih punya satu pertanyaan mengganjal untuk dijawab, mengapa. 

Para pemimpin menjelaskan apa pengetahuan mereka dan bagaimana menerapkan pengetahuan itu. Inilah metode sebagian besar pemimpin dalam mengidentifikasi masalah. Mereka fokus pada sesuatu apa yang dapat dibagikan ke orang-orang. Namun tidak jarang para pemimpin tidak mempertimbangkan faktor mengapa dari perspektif orang-orang karena mengapa dianggap dapat ditemukan dengan sendirinya oleh orang-orang.

Ada tiga strategi yang dapat membantu kita melihat inti permasalahan dengan mempertanyakan mengapa.

Tanyakan Pertanyaan Apa dengan Tepat

Jawaban dari mengapa kerap tersembunyi di sisi bawah sadar di mana kita perlu menggalinya. Terkadang, kita bisa mendapatkan alasan mengapa yang bagus dengan mempertanyakan diri sendiri pertanyaan apa yang tepat, seperti: Apa risikonya jika kita tidak melakukan ini atau itu? Apa yang akan terjadi ketika kita selesai melakukan ini? Apa yang akan terjadi pada orang-orang jika kita sudah atau belum melakukan ini?

Cara lain adalah dengan meminta seseorang untuk mengajukan pertanyaan selanjutnya apa, hingga kita tidak dapat menjawabnya lagi. Semua pertanyaan-pertanyaan itu akan membawa kita ke akar pertanyaan mengapa. 

Baca juga: 8 Hal yang Dimiliki Para Pemimpin Terhebat di Dunia

Ikuti dengan Karena

Dengan hanya mempertimbangkan mengapa tidaklah cukup – kita harus lebih jelas mempertanyakan mengapa. Cobalah dengan cara meminta seseorang untuk melakukan apa yang kita minta dan ikuti dengan alasan karena. 

Contohnya, “Kita perlu melakukan ini, karena … .”Apa pun alasannya, selalu ikuti dengan karena. Jika titik-titik itu masih kosong, kita dapat menarik pertanyaan mengapa. 

Perspektif Lain

Cobalah gali perspektif potensial sebelumnya yang telah kita hapus dari opsi. Mungkin terdengar sedikit bertentangan dengan intuisi kita, tetapi kita dapat membujuk orang-orang dengan membagikan perspektif yang telah kita hapus ini dan mempertanyakan kembali mengapa kita membuang perspektif itu. Dengan membagikan perspektif yang telah kita teliti, timbang-timbang, uji, dan kemudian buang, kita akan menyadari bahwa kita telah memikirkan berbagai kemungkinan.

Menjawab pertanyaan mengapa adalah tindakan yang membutuhkan empati dan akan menambah nilai penting untuk melibatkan seseorang dalam suatu pemecahan masalah.

Di waktu-waktu seperti ini, orang-orang membutuhkan keputusan yang bijak dari seorang pemimpin. Sebelum dapat memberi inspirasi atau motivasi pada orang-orang, jangan pertanyaan penting ini: mengapa. 

 

RUJUKAN:

Harvard Business Review

Sumber gambar: Lifepal.co.id

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…