Ketika temanmu memiliki masalah pekerjaan atau masalah keluarga, mereka biasanya akan mencari seseorang untuk dapat mencurahkan isi hatinya. Jika seseorang itu adalah kamu, bagaimana responmu terhadap masalah mereka? Banyak dari kita akan menawarkan saran seperti: “mending kamu …, kamu harusnya …, dll., dll.”

Mungkin kamu akan berpikir bahwa respon mereka terhadap saranmu akan seperti, “wah, betul juga ya. Aku bahkan tidak terpikirkan hal itu sama sekali. Terima kasih!” Salah besar. Mereka justru akan merasa sebaliknya. Yang mereka butuhkan bukan itu. Jadi apa? Dan apa yang salah dengan memberi saran?

Inilah mengapa saran kerap menyerang balik: saran atau nasihat menantang kebutuhan psikologis kita akan otonomi. Seorang psikolog bernama Ryan Deci mengembangkan teori self-determination (penentuan diri).Teori ini menjabarkan tiga aspek penting yang dibutuhkan manusia:

  • Kebutuhan untuk kompetensi (untuk merasa dapat menyelesaikan sesuatu, merasa baik dalam suatu hal/pekerjaan)
  • Keterhubungan (untuk merasa terkoneksi, terhubung dengan yang lain)
  • Otonomi (kendali, kemampuan untuk dapat membuat pilihan kita sendiri)

Baca juga: Cara Paling Bijak Menanggapi Komentar Negatif di Media Sosial

Ketika seseorang memberi kita saran, mereka sedang berusaha menerapkan perspektif mereka dalam proses pengambilan keputusan kita, ketimbang menawarkan kita pilihan untuk membuat keputusan terbaik kita. Dengan kata lain, saran seseorang menantang kebutuhan otonomi kita.

Penelitian dari Deci telah menemukan bahwa ketika dua orang memahami masing-masing otonomi, maka hubungan pertemanan akan lebih kuat. Memberikan saran maka menyentuh sisi otonomi seseorang, dan hal ini yang membuat ikatan pertemanan melemah.

Lebih lanjut, ketika kamu tidak memberikan saran, kamu tidak perlu merasa risau ketika saranmu tidak dilakukan temanmu. Kamu juga akan merasa lebih terhubung dengan temanmu ketika mereka mengapresiasi cara mereka menentukan keputusannya sendiri.

Sebenarnya kamu tetap dapat memberikan saran. Namun, jika mereka benar-benar meminta padamu. Jika tidak, cukup dengarkan. Karena sesungguhnya, mereka hanya ingin didengar. Lalu respon yang baik untuk menanggapi keluh kesah mereka apa? Kamu bisa menanyakan hal ini:

  • Dari pandanganmu, pilihan terbaik sejauh ini apa?
  • Apa yang paling mengkhawatirkanmu ketika kamu (masalah pekerjaan, misal: dipecat)/(masalah keluarga, misal: adik ditinggal sendiri di rumah)?

Baca juga: Apa Itu Cyberbullying? Dan Mengapa Ia Sulit Diatasi?

Cukup dengarkan, dan terus bertanya tentang masalah mereka. Jangan memberi saran, kecuali diminta. Terakhir, jangan membandingkan pengalamanmu dengan masalah mereka, seperti: “Aku juga pernah kok …, kamu masih mending, aku dulu …, dll., dll.”

Dengan melakukan cara-cara seperti yang tertulis di atas, maka kita sedang berusaha mempercayai teman kita dalam proses membuat alternatif pilihan untuk pengambilan keputusan mereka. Selain itu, mereka akan merasa didampingi olehmu di masa-masa sulitnya. Kita menghormati teman kita untuk membuat kesimpulannya sendiri dan tidak menyentuh sisi otonomi mereka.

RUJUKAN: PSYCHOLOGY TODAY

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…