Sajak dan puisi merupakan salah satu karya seni tertua yang pernah dibuat oleh manusia. Sajak dan puisi juga menggambarkan identitas suatu budaya dan muncul selalu bersamaan dengan suatu kejadian bersejarah. Sejak pertama kali dianalisis oleh Aristoteles, seorang filsuf terkemuka dari Yunani, sajak dan puisi telah menjadi bagian dari setiap dinamika seni itu sendiri.

Namun sering kita bertanya-tanya, apa perbedaan antara sajak dan puisi? Selain sarana hiburan, apa manfaatnya bagi kita para pembacanya?

Perbedaan Sajak dan Puisi

Sajak adalah puisi, namun puisi belum tentu sajak. Lho? Bagaimana bisa?

Sajak adalah sebuah puisi yang berdiri sendiri atau sifatnya individual. Makna dari sajak pun lebih luas ketimbang puisi. Yang membuatnya demikian adalah karena sajak lebih berkaitan dengan bunyi pada kalimat di dalamnya. Di dalam sajak, kata demi kata memberikan konotasi yang sama atau mirip, sehingga ada kesatuan makna yang dapat ditarik dalam satu larik sajak.

Contohnya sepenggal sajak dari WS Rendra yang berjudul “Orang-orang Miskin”: “Orang-orang miskin di jalan, yang tinggal di dalam selokan, yang kalah di dalam pergulatan, yang diledek oleh impian, janganlah mereka ditinggalkan.” Pada sebait sajak tersebut, Rendra memberikan satu garis makna tentang orang-orang miskin. Kata-kata seperti jalan, selokan, pergulatan, impian, dan ditinggalkan merupakan realita-realita yang umumnya dihadapi orang-orang miskin jalanan. Kita pun dapat menarik kesatuan makna dari sajak itu.

Sedangkan puisi, merupakan bentuk karya sastra namun lebih terikat dengan aturan. Ia  juga mengandung keindahan seperti dalam sajak, namun puisi lebih bersifat umum karena dapat ditemui dalam kalimat-kalimat pada cerpen, karangan, atau novel. Bahkan pada narasi film, lirik dalam lagu, dan lain-lain.

Penyair menggunakan puisi sebagai bagian dari proses menggunakan kata dan bahasa untuk membangkitkan perasaan dan pemikirannya. Ia menciptakan puisi sebagai bentuk mengekspresikan diri melalui metafora, simbol, dan ambiguitas. Puisi dapat diterapkan pada banyak medium seperti yang telah disebutkan di atas: cerpen, karangan, novel, film, lagu, dan lain-lain.

Baca juga: Tips Simpel Membaca Efektif 

Manfaat Membaca Sajak dan Puisi

  • Mengembangkan Skill Berbicara Verbal dan Meningkatkan Memori Otak

Manfaat yang paling dapat kita rasakan ketika sering membaca sajak dan puisi adalah berkembangnya skill berbicara dan peningkatan memori otak. Mengapa bisa? Sajak dan puisi menghadirkan kata-kata atau istilah maupun perumpamaan yang tidak familiar dengan yang umumnya kita dengar, sehingga mendorong kita untuk mencari kaitannya. Membaca memberi kita banyak kosakata baru dan dengan kebiasaan mencari kaitan suatu peristiwa, otak kita dilatih untuk memikirkan hal yang baru dan juga memandang dunia dalam penglihatan yang baru.

Lalu bagaimana contoh perumpamaan yang tidak familiar itu? Ada ungkapan dari Aan Mansyur pada salah satu karyanya yang berjudul “Di Halaman Belakang Puisi Ini”, begini bunyinya: “Aku mungkin tidak berada di sanaーaku sedang duduk menemani diriku di taman kota atau perpustakaan atau terjebak pesta berbeda dalam puisi yang belum dituliskan.” Bukankah ungkapan seperti itu tidak pernah kita ucapkan dalam percakapan sehari-hari? Dari puisi itu kita pasti berusaha mencari kaitan antara peristiwa yang digambarkan Aan dengan peristiwa hidup yang kita alami.

  • Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis

Sajak dan puisi mendorong kita berpikir kritis karena bentuk seni ini memaksa kita berpikir. Dalam sajak dan puisi yang hebat, makna tidak secara gamblang terlihat. Pembaca sajak dan puisi cenderung lebih kuat dalam menganalisis suatu informasi dan memiliki sudut pandang yang lebih luas. Skill ini sangat membantu siapa pun untuk membentuk suatu opini atau menciptakan perspektif yang lebih baik.

Kita tahu, bahasa membentuk perilaku si penutur dan pengalamannya terhadap dunia. Bila penutur, umpamanya, menggunakan bahasa daerah dengan teman sebayanya yang menggunakan bahasa yang sama, maka ia akan menunjukkan dirinya lebih jelas. Bila ia menggunakan bahasa yang lain, maka perilakunya pun lain. Nah, berpikir kritis yang dikembangkan melalui kebiasaan membaca sajak dan puisi akan memberikan kontrol yang lebih baik terhadap penggunaan kata-kata dan argumen, bahkan ketika kita menuturkan yang bukan bahasa ibu kita.

Baca juga: 8 Fakta Menarik dari Orang yang Gemar Membaca

  • Menumbuhkan Empati dan Keterbukaan

Empati dan keterbukaan pikiran dapat ditumbuhkan melalui bait-bait sajak dan puisi. Kekuatan paling besar yang dapat kita serap dari sajak dan puisi adalah kemampuannya untuk dapat menyatukan pembaca dan penulis melampaui waktu dan batasan budaya. Sajak dan puisi menawarkan berbagai manfaat dalam caranya yang paling efektif. Kita mampu meresapi perasaan si penyair dalam karya-karyanya dan tentu kita dapat mengetahui budaya si pencipta sajak dan puisi itu.

Seorang pembaca mungkin tidak memiliki pengalaman tentang seperti apa rasanya hidup di era kolonial. Namun karena kita membaca sajak dan puisi yang diciptakan Chairil Anwar, kita seakan berada di masa kolonial itu dan merasakan segala peristiwa. Rasa-rasanya, kita dapat melihat orang-orang dengan lantang berteriak merdeka, melihat perjuangan rakyat melawan penjajahan, mendengar deru pesawat, bom, dan lain-lain. Buku layaknya sebuah ruangan di suatu masa yang dapat kita kunjungi dengan caranya yang paling mudah: membaca.

  • Perkenalan yang Baik Terhadap Bentuk Seni Lain

Sekali seseorang merasa nyaman dengan puisi, mereka akan lebih mudah berkenalan dengan bentuk-bentuk seni lainnya. Apresiasi terhadap berbagai bentuk seni membutuhkan pikiran dan kesadaran emosional yang sama kritisnya dengan bentuk seni yang ingin pembaca kenali. Ada pula beberapa penyair yang sering menyisipkan karya seni lain ke dalam bait karyanya sehingga kita seakan diberikan jalan untuk mengenal karya seni itu.

Perasaan emosional yang kita rasakan dari membaca sajak dan puisi juga membuka peluang kita untuk mencari karya seni lain yang efeknya sejenis. Semisal kita membaca sajak tentang patah hati, maka kita -dalam kenikmatannya yang aneh- berusaha mencari film atau lagu atau lukisan yang memiliki gambaran perasaan yang sama.

Leave your vote

2 points
Upvote Downvote

Total votes: 16

Upvotes: 9

Upvotes percentage: 56.250000%

Downvotes: 7

Downvotes percentage: 43.750000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…