Dalam sebuah foto yang berlatar tahun 1930-an, ada dua perempuan yang berhenti di trotoar jalan: seorang yang pertama memunggungi tangkapan kamera dengan menggendong rak 2 tingkat berisi buku dan seorang lagi menunduk pada buku yang sedang dibuka dengan tangannya yang dibungkus sarung tangan.

Dalam keterangannya, dari Arsip Agensi Sindikat Berita VSV Soibelman, yang dicuitkan via akun Twitter “History in Pictures”, foto perpustakaan berjalan tersebut berlokasi di London pada tahun 1930-an. Dalam sebuah blog Tumblr, Annie Koh punya lebih banyak detail mengenai foto tersebut. Dalam keterangannya ia menuliskan:

“Kritikus selalu mengomentari bahwa kita di negara ini cukup tertinggal berada di belakang negara-negara Eropa ketika menyoal tentang pinjam-meminjam buku dari perpustakaan. Dan gadis yang ulet di Rumsgate itu menyelesaikan masalah di atas dengan menggendong rak buku yang dikaitkan ke punggungnya dan berkeliling di jalan-jalan, dari pintu ke pintu, di mana orang-orang dapat meminjam buku tersebut selama sepekan dengan biaya dua kali lipat.”
Sejarah Buku dan Perjalanan
Perpustakaan berjalan di London tahun 1930-an. Sumber

Apakah perpustakaan berjalan cukup membantu? Ada begitu banyak sejarah mengenai perpustakaan berjalan maupun melakukan perjalanan dengan membawa buku.

Dalam proyek seni yang mengeksplorasi hubungan antara kegiatan berjalan dan buku, si pencipta proyek tersebut Misha Myers dan Deirde Heddon mengambil inspirasi dari cerita-cerita bersejarah, yang mereka tulis untuk jurnal Cultural Geographies. Contohnya cerita penyair John Keats yang berjalan ke Lake District di Skotlandia pada tahun 1818, membawa Komedi Ilahi (Divine Comedy) karya Dante and karya-karya John Milton. Untuk seorang konservasionis macam John Muir yang telah berjalan ribuan mil jauhnya, ia selalu membawa puisi “a copy of Robert Burns'”, Paradise Lost karya Milton, Botany karya William Wood, New Testament kecil, sebuah jurnal dan peta.

Namun Myers dan Heddon juga masih bertanya-tanya, buku apa yang mampu menambahkan pengalaman dalam sebuah perjalanan, sebaik bagaimana pemandangan dan perjalanan melalui sebuah tempat mempengaruhi pengalaman membaca.

Baca juga: Sejarah Singkat Pembakaran Buku dari Masa ke Masa

Membawa koleksi buku dalam perjalanan yang panjang tentu melelahkan, namun pada abad ke-17 di Inggris, ada empat orang atau keluarga yang cukup beruntung memiliki perpustakaan perjalanan yang dirancang baik.

Yang diperlukan hanyalah buku-buku mini —sekitar 50 buku emas yang diikat dengan vellum, pada kenyataannya, semuanya digabungkan ke dalam sebuah kotak kayu yang lebih besar yang diikat dengan kulit coklat agar terlihat seperti sebuah buku itu sendiri, yang sekarang disimpan dalam koleksi khusus Universitas Leeds.

Sejarah Buku dan Perjalanan
Perpustakaan Perjalanan pada abad ke-17 yang kini disimpan dalam koleksi khusus Universitas Leeds, Inggris. Sumber

“Perpustakaan keliling ini dimaksudkan untuk dibawa-bawa oleh para bangsawan dalam perjalanan mereka,” tulis David Kirby dalam Michigan Quarterly Review. Para cendekia tidak yakin siapa yang menugaskan empat perpustakaan keliling, tetapi mereka sangat meyakini William Hakewill, seorang pengacara, bibliofil, dan sejarawan hukum yang hidup dari tahun 1574 hingga 1655.

Bagi mereka yang mampu membeli harta karun yang dibuat khusus seperti itu —raja, misalnya— perpustakaan keliling tentulah sangat menarik. Napoleon Bonaparte, mungkin lelah menyeret (atau menyuruh orang lain untuk menyeret) “beberapa kotak berisi masing-masing sekitar enam jilid” dari buku-buku favoritnya. Penulis Austin Kleon mengirimkan kutipan dari koran ke blognya. Reporter itu menulis bahwa Napoleon meminta setiap buku kecil di perpustakaan harus “memuat dari lima ratus hingga enam ratus halaman, dan diikat di sampul sefleksibel mungkin dan dengan punggung pegas.”

Lebih lanjut:

“Harus ada 40 karya tentang agama, 40 karya drama, 40 volume buku yang sangat bagus dan 60 lainnya tentang puisi, seratus novel dan 60 volume buku sejarah, di mana sisanya menjadi memoar sejarah pada setiap periode.”

Untuk mereka yang kurang mampu, perpustakaan perjalanan yang berbeda akhirnya muncul. Kini, bila melihat adanya sekolah yang masih dikunjungi oleh penjual buku keliling, yang disebut sebagai pameran buku atau bookmobiles, maka ia adalah warisan daripada perpustakaan keliling lebih dari seabad yang lalu. Kumpulan buku jalan ini pertama-tama bergerak dengan gerobak yang ditarik kuda dan kemudian mobil. Kawasan pedesaan sangat menantikan adanya kunjungan-kunjungan seperti ini.

Baca juga: 7 Buku yang Diklaim Menjadi Penyebab Kejahatan di Dunia

Namun terdapat perpustakaan berjalan lainnya, sebuah metafora yang ditawarkan oleh Kirby dalam Michigan Quarterly Review.

Esainya berbicara tentang keuntungan dari buku elektronik dan apa arti teknologi digital untuk pembaca di masa depan. “Seorang pembaca buku elektronik dengan harga terjangkau dan punya rasa senang saat membacanya akan menjadi jenis perpustakaan perjalanan yang tiada batasnya,” catatnya.

 

SUMBER

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…