Anda mungkin pernah mendengar ada orang yang kesulitan melafalkan huruf ‘V’ dan ‘F’. Vespa dibaca pespa, atau film dieja pilem. Kenapa begitu?

Menurut tim peneliti interdisipliner dalam studi baru, ini mungkin berkaitan dengan apa yang nenek moyang kita makan. Mereka berpendapat, makanan leluhur seseorang di tiap budaya berbeda, ternyata telah memengaruhi perilaku dan identitas berbahasa anak cucu beserta keturunannya melalui rangkaian peristiwa yang kompleks.

Studi dalam Jurnal Science ini menemukan perubahan pola makan leluhur manusia mungkin telah mengubah cara kita menggigit, dan akibatnya, cara kita berbicara.

Peneliti menjelaskan, bayi dan anak-anak di zaman apapun mengalami sedikit overbite (tonggos), gigi atas sedikit berada di depan gigi bawah. Pada masa pemburu-pengumpul di periode Paleotik, orang cenderung mengandalkan kekuatan gigi untuk merobek makanan-makanan keras seperti daging hasil buruan dan akar tanaman.

Akibatnya, di masa dewasa rahang bawah cenderung bergeser ke depan. Ini secara alami mengganti overbite dengan gigitan edge to edge (ujung ke ujung). Ujung gigi barisan atas dan bawah berada pada posisi sejajar dan saling beradu.

Dalam studi sebelumya, struktur rahang dan gigitan edge to edge ditemukan sangat normal dimiliki manusia dewasa di periode paleolitik. Akan tetapi, ketika masyarakat mulai mengadopsi teknik pertanian di masa bercocok tanam sekitar 8.000 tahun lalu sehingga makanan menjadi lebih lembut, overbite tetap bertahan hingga dewasa.

Alhasil, kini banyak orang lebih mudah untuk menghasilkan suara tertentu. Terutama yang oleh ahli bahasa disebut konsonan labiodental, alias suara yang dihasilkan dengan menekan gigi atas ke bibir bawah seperti saat Anda mengucap huruf ‘V’ dan ‘F’.

Singkatnya, studi baru menunjukkan overbite membuat orang lebih mudah mengucap labiodental. Namun, “Bukan berarti labiodental akan muncul dalam semua bahasa,” kata Steven Moran, ahli bahasa dan salah satu penulis studi baru.

Sebaliknya, di tengah meningkatnya jumlah orang yang bisa mengucap ‘V’ dan ‘F’ dengan fasih dari waktu ke waktu, tetap ada orang-orang yang kesulitan melafalkannya. Misal, karena makanannya, sejarah mendalam suatu bahasa atau bentuk rahang dan mulut yang memengaruhi gigitan.

Benar saja. Mahmud Fasya, pakar antropolinguistik Universitas Pendidikan Indonesia, mengatakan kita sebetulnya tak perlu kaget atau merasa lucu jika ada orang yang tidak bisa melafalkan suatu huruf dengan benar. Alasannya, tegas dia, “Karena memang jumlah bunyi dalam setiap bahasa itu berbeda.”

Ia mencontohkan, orang Batak sulit melafalkan bunyi Eu, dan orang Jawa akan menyebut kata mbandung alih-alih Bandung karena kesulitan dengan bunyi B. Lalu, orang Bali juga kesulitan melafalkan huruf f, v, dan t.

Lebih-lebih dalam fonologi bahasa Sunda, jelasnya, tidak ada bunyi F dan V tetapi dikenal huruf P. Dengan begitu, tak heran bunyi baru yang didengar seseorang dan bukan dipelajari sebagai bahasa pertama akan tetap terasa asing oleh penuturnya.

“Akan ada banyak kendala ketika orang belajar bunyi baru setelah golden age,” ujar Mahmud.

Begitu pula, pada masyarakat pedesaan dan pedalaman, atau setidaknya yang masih mempertahankan budaya leluhur di tengah kehidupan modern, besar kemungkinan masih kental menurunkan atau menyerap kemampuan berbahasa paling dasar.

“Bunyi-bunyi tertentu seperti suara ‘F’ muncul baru-baru ini, dan kami dapat mengatakan dengan keyakinan cukup baik bahwa 20 ribu atau 100 ribu tahun yang lalu, suara-suara ini sama sekali tidak ada,” jelas Balthasar Bickel, ahli bahasa di University of Zurich dan seorang penulis studi baru.

Jadi tak mengherankan di budaya tertentu yang masih mempertahankan kebiasaan makan makanan keras, masyarakatnya mungkin kesulitan mengucap F dan V. Apalagi telah diketahui, bentuk rahang dan gigi serta berbagai kelainannya sama-sama diturunkan.

Meski begitu, Guru Besar Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjajaran, Prof. Cece Sobarna menuturkan, kesulitan orang Sunda melafalkan huruf V dan F, sebetulnya bukan karena mereka tidak bisa, tapi karena terbiasa menyederhanakan pelafalan yang ada.

Peneliti studi baru setuju. Menurut mereka, alasan orang menyederhanakan pelafalan F dan V tak lain demi kemudahan dan menghemat energi. Peneliti membuktikan, setidaknya diperlukan sekitar 29 persen lebih banyak usaha otot untuk menghasilkan labiodental dengan gigitan edge-to-edge dibanding overbite.

“Ini mungkin studi paling meyakinkan yang menunjukkan bagaimana kendala biologis pada perubahan bahasa dapat berubah seiring waktu karena perubahan budaya,” pungkas Tecumseh Fitch, ahli bioakustik dan evolusi bahasa sekaligus profesor biologi kognitif di Universitas Wina yang tidak terlibat dalam studi.

SUMBER: BERITAGAR

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 4

Upvotes: 2

Upvotes percentage: 50.000000%

Downvotes: 2

Downvotes percentage: 50.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…