Kartono (54) sibuk menghitung jumlah kertas untuk lomba mewarnai dalam rangka memperingati Hari Buku Sedunia pada Senin (8/5/2017).

Dia kemudian memberikan tumpukan kertas tersebut kepada Ujang, salah satu relawan di Taman Bacaan Kawan Kami yang di dirikan Kartono sejak tahun 2007.

“Semua anak-anak dikasih jangan sampai ada yang nggak dapat ya. Saya masih ngurusi pembagian makanan sehat sebentar untuk anak-anak di gang sebelah,” ungkap Kartono kepada Ujang.

Lomba mewarnai yang diikuti anak-anak usia PAUD dan TK tersebut di gelar di gang kecil kawasan Putat Jaya II A Surabaya. Kawasan tersebut adalah bekas lokalisasi Jarak Dolly yang sudah ditutup oleh Pemkot Surabaya.

Anak-anak terlihat semangat mewarnai dengan crayon dan pensil warna, sedangkan mereka yang berusia SMP dan SMA terlihat memainkan alat musik serta menyanyikan lagu untuk menghibur para peserta lomba. Suasana terlihat akrab karena beberapa ibu rumah tangga ikut datang menemani anaknya yang berlomba.

(Baca juga: Demi Anak-anak Desa, Ibu Ini Modifikasi Motor Roda 3 Jadi Perpustakaan Keliling)

Ujang, mahasiswa ITS yang juga menjadi salah satu relawan di Taman Baca  Kawan Kami kepada Kompas.com bercerita, dia bergabung di Taman Baca Kawan Kami sejak tahun 2014.

Baca juga: PAPUA HEI, Harapan Nyata dari Indonesia Bagian Timur

Minimal, seminggu sekali dia bersama dengan rekan-rekannya berkunjung ke kawasan Putat Jaya dan melatih anak-anak  bermain teater.

“Saat saya gabung disini pas rame-ramenya penutupan lokalisasi. Ceritanya panjang hingga saya bisa sampai sini. Tapi yang penting adalah ada kegiatan positif untuk anak-anak. Bahkan kami sering main teater di beberapa kampus. Adik-adik mainnya juga bagus,” kata Ujang bangga.

Sementara itu Kartono, pendiri Taman Baca Kawan Kami, kepada Kompas.com berkisah keputusannya mendirikan taman baca di tengah-tengah kawasan lokalisasi bukan sebuah keputusan yang mudah.

Pada tahun 2007, dengan modal seadanya, dia dan keenam rekannya menyewa kamar di salah satu wisma dengan biaya Rp 150.000 per bulan. Kamar tersebut dijadikan taman baca untuk anak-anak sekitar lokalisasi.

Walaupun sudah ada sejak tahun 2007, Kartono masih tetap menyewa ruangan untuk taman bacanya. Jika awalnya hanya meyewa satu kamar, kini dia menyewa 3 ruangan besar bagian depan untuk kegiatan anak-anak.

“Untungnya pemiliknya baik jadi diperbolehkan menyewa ruangannya. Sejak penutupan lokalisasi, wisma-wisma di sini hanya diperbolehkan menyewakan kamar kepada pasangan suami istri yang sah dan bisa menunjukkan surat nikah. Kalau saya dan istri menyewa kamar di bagian belakang dengan biaya 400 ribu perbulan,” kata laki-laki kelahiran Banyuwangi 29 Agustus 1963 tersebut.

Sebelum membuka taman baca, Kartono mengaku jika pernah menjadi mucikari yang sangat disegani di kawasan Putat Jaya selama 6 tahun. Awalnya, Kartono muda sempat bekerja di Dinas Pengairan Banyuwangi pada tahun 1981.

Baca juga: KomposTIFA, Api yang Tak Pernah Redup Memberi Cahaya

Namun dia memilih pindah bekerja di sebuah perusahaan di Surabaya untuk mendapatkan gaji yang lebih besar. Kartono hidup berkecukupan dan mulai berkenalan dengan dunia prostitusi. Dia kemudian menyewa sebuah wisma untuk dijadikan cafe dan karaoke.

“Kafe saya sepi karena tidak menyediakan cewek. Akhirnya saya cari-cari dan dapat jaringan untuk mendapatkan perempuan yang dipekerjakan di kafe milik saya. Waktu itu saya nggak pernah namanya nggak pernah pegang uang. Isinya cuma senang senang saja,” kenangnya.

(Baca juga: Kisah Fauzi dari Jual Jamu Sambil Bawa Buku hingga Bangun Rumah Baca)

Pada tahun 2004, Kartono mulai berkeinginan untuk berhenti menjadi mucikari setelah salah satu tetangganya yang berusia 21 tahun meninggal karena HIV/AIDS. Dia kemudian memutuskan bergabung sebagai relawan pendampingan ODHA tanpa digaji karena masih mendapatkan penghasilan dari kafe yang dikelolanya.

“Walaupun banyak uang, saya tidak menemukan ketenangan batin. Saat menjadi relawan itulah semakin banyak pengalaman dan saya menyadari bahwa selama ini yang saya lakukan banyak melanggar hukum. Mulai trafficking, kekerasan pada perempuan dan anak. Materi-materi dari pelatihan yang saya ikuti habis saya baca semuanya. Akhirnya pikiran saya semakin terbuka. Apalagi berbarengan dengan kondisi rumah tangga yang berantakan,” ungkapnya.

Untuk keluar dari dunia prostitusi, Kartono memutuskan berkeliling menemui kiai-kiai yang ada di wilayah Jawa Timur untuk berkonsultasi dan juga untuk mencari ketenangan batin.

Undangan sebagai pembicara terkait kasus perdagangan orang pun sering dia terima karena dia aktif menyuarakan kasus trafficking di lokalisasi.

“Saya tahu  dan saya berani berbicara karena saya orang teribat di dalamnya. Anggap saja saya ini pernah jadi mafianya. Saya semakin banyak membaca hingga akhirnya saya memutuskan berhenti total menjadi mucikari,” paparnya.

Dia mengakui kegemarannya membaca termasuk telat, yaitu sejak 15 tahun terakhir. Buku yang dia gemari adalah buku-buku motivasi.

Saat membuka taman baca untuk pertama kali, lokalisasi Jarak dolly masih aktif. Kamar yang dia sewa menjadi tempat anak-anak untuk bermain dan belajar karena anak-anak tidak menemukan tempat yang nyaman untuk pulang.

Saat isu penutupan lokalisasi Jarak Dolly bergulir, Kartono pun semakin dimusuhi oleh banyak pihak baik yang pro dan kontra. Namun, dia tetap bertahan dengan taman baca yang dirikannya dan terus mengampanyekan hak-hak anak dan juga mengkampanyekan bahayanya human trafficking.

Dia dibantu oleh relawan-relawan dari komunitas lainnya menghidupkan mimpi-mimpi anak-anak yang ada di sekitar lokalisasi.

Kegiatan Kartono didukung oleh Salamah (27) istrinya yang dinikahinya saat aktif menjadi relawan. Saat menikah, Salamah yang berasal dari Pasuruan adalah korban trafficking.

Baca juga: Dari Sumba, Melalui Taman Baca, Melawan Perdagangan Manusia

Dia sempat dipaksa bekerja di sebuah wisma selama dua minggu hingga kemudian bertemu dengan Kartono dan mereka memutukan menikah pada tahun 2009.

“Ketemu sama bapak saat itu pas ikut pelatihan masak memasak. Saya bersyukur bisa lepas dari dunia kayak gitu. Waktu itu saya nggak tau apa-apa diajak kerja ehh ternyata kerjanya kayak gitu,” ujar Salamah kepada Kompas.com.

Saat ini, Salamah membuka katering dan menerima pesanan masakan dari hajatan atau acara-acara di sekitar Putat Jaya. Dia dan suaminya juga membantu menjualkan produk camilan yang dibuat oleh warga terdampak lokalisasi yang ada di sekitar rumahnya yang tergabung di kelompok swadaya masyarakat.

Salamah yang dipanggil tante oleh anak-anak sekitar sudah dianggap ibu sendiri oleh mereka.

“Satu hari bisa 20 anak ke sini. Makan dan tidur di sini. Kadang-kadang curhat juga. Saya enggak masalah malah seneng rame,” ujarnya.

Ketika mendapat donasi uang, Kartono dan Salamah selalu menawarkan kepada anak-anak apa yang mereka butuhkan. Selain untuk membeli buku, mereka kemudian membeli seperangkat alat musik yang bisa dimainkan sewaktu-waktu.

“Mereka saya ajak untuk memilih alat musik sendiri apa yang diinginkan. Mereka belajar  musik dengan para relawan dan alhamdulillah hasilnya positif untuk mereka yang sudah beranjak dewasa. Mereka semakin percaya diri,” kata Kartono.

Saat ini, koleksi buku di taman baca Kawan Kami mencapai sekitar 4.000 buku.

Sementara itu, Dwi Mulyo, Kepala Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, kepada Kompas.com bercerita bahwa dari 15 RW yang masuk wilayahnya ada 5 RW yang masuk wilayah eks lokalisasi Jarak dan Dolly.

Sejak ditutup, ada 10  rumah yang sudah dibeli oleh Pemkot Surabaya kemudian dijadikan fasilitas publik seperti lapangan futsal, taman bermain anak-anak serta pengembangan UMKM untuk masyarakat yang terdampak.

“Rencananya masih ada 17 rumah yang akan di beli nanti akan kami usulkan untuk dibuat pengembangn taman baca. Saya juga baru tahu kalau taman baca yang dikelola Pak Kartono masih sewa,” katanya.

Dia juga mengaku akan terus mendukung kegiatan postif yang ada di wilayah kerjanya.

“Dengan adanya taman baca minimal anak-anak kalau main enggak di jalan. Aktivitas mereka tersalurkan di kegiatan positif,” ungkapnya.

Saat Kompas.com bertanya sampai kapan Kartono akan mengelola taman baca, dengan tegas Kartono menjawab akan mengelolanya hingga dia meninggal dan akan mewariskan kepada istri dan anak-anaknya.

“Saya akan terus menghidupkan taman baca ini sampai saya meninggal. Nanti ada istri dan anak yang akan meneruskan. Pinginnya juga buka di Pasuruan, tempat asal istri saya. Taman baca ini bukan milik saya, Kartono tapi milik kami semua karena itu diberi nama Taman Baca Kawan kami. Jika pun nanti kontrakan tidak bisa diperpanjang saya akan cari tempat lain di sekitar sini. Tapi saya percaya pemiliknya rumah ini masih percaya untuk menyewakan kepada saya. Ini demi anak-anak disini. Anggap saja penembusan masa lalu saya,” tuturnya sambil tersenyum.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Taman Baca, Cara Kartono Bangun Mimpi Anak-anak di Eks Lokalisasi”
Penulis : Kontributor Banyuwangi, Ira Rachmawati

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…