Dilansir dari Kompas.com, gempa dengan kekuatan 5,3 skala richter mengguncang Gunungkidul, DI Yogyakarta pada Senin (28/6/2021) pukul 05.15 WIB. Gempa ini pun dirasakan oleh masyarakat  Jawa Tengah dan DI Yogyakarta.

Keadaan geografis Indonesia yang letaknya di daerah dengan tingkat aktivitas gempa bumi yang tinggi memang dikenal rentan.

Tidak hanya Indonesia yang dikenal sebagai negara rentan gempa bumi, Jepang pun demikian.

Jepang telah dikenal dengan sistem mitigasi bencana gempa bumi yang sangat baik dan menjadi rujukan oleh negara-negara lain. Lalu apa yang harus dilakukan saat gempa bumi? Yuk, belajar dari Jepang!

Menyediakan Pusat Kendali Bencana

Karena seringnya masyarakat Jepang diterpa bencana gempa bumi, masyarakat Jepang sudah terbiasa, bahkan sejak kecil.

Pemerintah Jepang beranggapan bahwa pengalaman lebih baik daripada pengetahuan mengenai gempa bumi.

Sehingga ketika gempa bumi datang, warga Jepang sudah siap.

Pengalaman itu juga ditunjang dengan didirikannya Pusat Kendali Bencana, di mana para warganya dapat mencoba gempa bumi buatan melalui ruang yang terdapat mesin penggoyang.

Tidak hanya bencana gempa bumi, Pusat Kendali Bencana juga menyediakan simulasi kebakaran dan juga petunjuk penanggulangannya, pertolongan pertama yang mesti dilakukan, dan hal-hal apa yang harus dilakukan saat gempa bumi lainnya.

Saat terjadi gempa bumi, apa yang dilakukan orang Jepang?

Kebanyakan masyarakat yang menjadi korban gempa bumi disebabkan karena tertimpa reruntuhan bangunan maupun pecahan kaca.

Apa yang harus dilakukan saat gempa bumi? Sistem mitigasi gempa bumi dari Jepang fokus pada 3 poin utama:

  1. Lindungi diri sendiri terlebih dahulu
  2. Padamkan sumber api
  3. Ketahui pintu keluar/pintu darurat di area setempat

Pada kekuatan gempa 7 skala richter, kecil kemungkinan kita dapat berdiri tegak karena goncangannya yang besar.

Namun, di momen kritis seperti itu, bukan berarti kita tidak bisa melakukan apa-apa dan tidak mempersiapkan apa-apa.

Saat momen itu terjadi, pastikan tetap tenang dan selamatkan diri terlebih dahulu.

10 Cara Mengurangi Kecemasan melalui Metode Sederhana

Selanjutnya, mari kita pastikan apa yang kita harus lakukan di situasi-situasi berikut ini:

1. Satu menit pertama saat gempa bumi

Saat di dalam rumah:

a.) Lindungi diri sendiri terlebih dahulu

Para ahli mengatakan bahwa gempa bumi pada satu menit pertama ialah yang paling kuat.

Pertama-tama, duduklah di bawah meja yang kokoh dan pegang kaki meja erat-erat untuk melindungi kita dari benda di sekitar yang mungkin jatuh menimpa.

b.) Padamkan sumber api

Jika kita mampu, segera matikan berbagai sumber api atau panas seperti gas, pemanas ruangan, dan setrika.

Jika ada api di sekitar kita, tetap tenang dan segera matikan sumber apinya.

Perhatikan! Kita tidak perlu mematkan api ketika goncangan gempa bumi sedang kuat.

Karena jika kita berusaha mematikannya, hal ini berpotensi membuat kita menabrak kompor gas yang menyala atau terkena tumpahan air panas dari ceret air.

Pakai sandal atau sepatu untuk melindungi kaki kita. Saat gempa terjadi, umumnya terdapat pecahan piring atau kaca dari jendela.

c.) Ketahui pintu keluar/pintu darurat di area setempat

Ketahui pintu keluar/pintu darurat di area setempat. Ingat! Cepat boleh, tapi jangan panik dan terburu-buru saat keluar.

Benda seperti kaca pecah atau benda-benda lainnya dapat jatuh dan menimpa kepala kita.

Dalam beberapa kasus, lebih aman tetap di dalam rumah. Tidak perlu melakukan evakuasi kecuali jika kita melihat bahaya seperti gedung yang akan roboh, langit-langit akan jatuh, atau api yang terlalu besar.

Saat di luar rumah:

a.) Lindungi kepala kita dengan tas atau benda yang meredam benturan

b.) Tetap menjauh dari objek-objek yang berpotensi roboh atau runtuh seperti bangunan, kulkas, jendela, baliho, dan lain-lain

c.) Pergi ke tempat terbuka

Saat berada di area bawah tanah:

a.) Lindungi kepala kita dengan tas atau benda yang meredam benturan

b.) Tetap menjauh dari objek-objek yang berpotensi roboh atau runtuh seperti bangunan, kulkas, jendela, baliho, dan lain-lain

Area bawah tanah relatif lebih aman dari area di atas permukaan tanah.

Di bawah tanah, getaran atau goncangan tidak sebesar di atas permukaan tanah. Di bawah tanah biasanya terdapat lampu darurat jika listrik padam, pintu keluar darurat di setiap 60 meter.

Saat gelap, kebanyakan orang akan panik. Dalam kondisi ini, sangat mungkin jika kita akan bertabrakan dengan orang lain.

Baiknya tetap tenang, mencari pintu darurat, dan tunggu sampai lampu darurat menyala.

Ikutilah instruksi pemegang wewenang dan tanggung jawab di area setempat dan bereaksilah dengan tenang.

Saat berada di supermarket:

a.) Lindungi kepala kita dengan tas atau benda yang meredam benturan

b.) Menjauhlah dari jendela kaca, kulkas berkaca, atau produk-produk seperti peralatan listrik dan perabotan

c.) Perhatikan di mana pintu darurat dan keluarlah dari supermarket melalui tangga

Perhatikan! Jangan gunakan lift atau elevator saat terjadi gempa. Dan jangan pergi ke lantai atas, karena api dan asap bergerak ke atas.

Apa Perbedaan Antara Perubahan Iklim dan Pemanasan Global?

2. Saat gempa bumi mereda:

a.) Pastikan orang-orang di sekitar sudah aman

Segera berikan pertolongan untuk orang yang terluka. Telepon ambulan, namun kita harus menunggu hingga mereka tiba.

Lebih baik kita sudah mengerti cara melakukan pertolongan pertama.

b.) Pastikan apakah ada kebakaran. Jika ada, segera padamkan dengan cepat dan tenang.

c.) Ketika kita berada di dalam ruangan (indoor), segera isi ember atau bak mandi dengan air.

Mengapa? Pada saat gempa bumi terjadi, mungkin saluran air rusak atau dimatikan terlebih dahulu oleh pihak berwenang.

Maka jika kita memiliki cadangan air, kita dapat membilas kotoran saat melakukan buang air besar/kecil.

Ada baiknya kita memiliki kebiasaan untuk mengisi air hingga penuh saat kita keluar dari kamar mandi/toilet.

d.) Cari informasi sebanyak mungkin melalui TV, radio, maupun internet.

e.) Mengungsi ke luar jika tampaknya akan ada bahaya rumah runtuh.

Perhatikan! Saat mengungsi ke luar, pastikan gunakan sepatu yang nyaman dan kuat, lalu matikan pemutus saluran listrik dan saluran gas sebelum kita pergi.

Jika saluran listrik atau saluran gas belum dimatikan, hal ini berpotensi menyebabkan kebakaran.

Ke mana kita pergi untuk mengungsi?

a.) Ke tempat pengungsian sementara

Biasanya, tempat ibadah atau balai desa menjadi tempat pengungsian sementara yang dirujuk oleh pemerintah daerah setempat.

b.) Tempat pengungsian terbuka

Tempat ini biasanya telah ditentukan oleh pemerintah kota dengan tujuan untuk menelamatkan diri dari gempa bumi maupun kebakaran skala besar. Jika situasinya sudah pulih, kita bisa kembali ke rumah.

c.) Tempat perlindungan evakuasi (pilihan terakhir)

Tempat ini adalah perlindungan resmi yang telah ditunjuk pemerintah. Sekolah-sekolah lokal dan tenda-tenda pengungsian biasanya telah diinisiasi oleh pemerintah sebagai tempat evakuasi.

Baca juga:

Apa Perbedaan Antara Perubahan Iklim dan Pemanasan Global?

10 Cara Mengurangi Kecemasan melalui Metode Sederhana

 

RUJUKAN:

Kompas.com

Japan Study Support

Sumber gambar: Unplash.com/Carl Campbell

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…